Attabayyun.com-Jakarta- Setelah beberapa waktu lalu 2 anggota tim sepeda muslim Inggris berhasil mencapai Kairo, kini delapan orang dari tim tersebut sudah berhasil mencapai Madinah untuk melaksanakan haji.

Mereka menjadi orang Inggris pertama yang melakukan perjalanan haji dengan sepeda dari Inggris. Tim yang dikenal sebagai “Hajj Riders” – mencapai kota suci Madinah dalam waktu kurang dari enam minggu sebagai bagian dari tantangan amal untuk mengumpulkan uang untuk bantuan medis di Suriah serta anak-anak yang tidak mampu di Bangladesh dan Pakistan.

Sesampainya di masjid Nabawi, mereka begitu emosional dan dikerumuni banyak orang untuk menyambut mereka. Mereka di Arab Saudi dibantu oleh kelompok bersepeda lokal Saudi Cyclists dan Taibah Cyclists, yang membantu mereka mengatasi hambatan yang mereka hadapi.

Mohammed Ehsaan, salah satu dari delapan pengendara sepeda, mengatakan “kata-kata tidak bisa menggambarkan perasaan saya,” Ilmfeed melaporkan pada hari Ahad 20 Agustus.

 

Karena masalah visa, tim tersebut juga harus meninggalkan rencana awal mereka untuk naik feri dari Hurghada di Mesir dan bersepeda di sepanjang pantai Saudi ke Madinah. Sebagai gantinya, kelompok tersebut terpaksa terbang dari Mesir ke Jeddah, selanjutnya dari Jeddah mereka melanjutkan perjalanan dengan bersepeda lagi ke Madinah.

 

Setelah sampai di Madinah, tim sepeda muslim ini akan beristirahat sebentar sebelum bersiap untuk ibadah haji yang akan dimulai pada akhir Agustus.

Published in BERITA

Attabayyun.com-Jakarta- Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi melalui Muassasah Asia Tenggara telah merilis surat edaran tentang waktu yang dilarang bagi jmaah haji Indonesia untuk melontar jumrah.

Published in BERITA
Wednesday, 16 August 2017 00:00

Asal Usul Istilah Haji Mabrur

Attabayyun.com-Jakarta- “Semoga memeroleh haji mabrur”, begitulah salah satu contoh ungkapan yang kerap kali terdengar saat hendak pemberangkatan, sedang menjalani atau selesai melaksanakan haji. Terma “haji mabrur” menjadi semacam doa harapan bagi para jama’ah haji agar memperoleh haji yang diterima oleh Allah. Tapi adakah yang tahu asal muasal “haji mabrur”? Apakah istilah itu sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad? Atau seperti gelar haji di depan nama seseorang yang hanya didapati di sebagian negara saja, tidak termasuk negara Arab yang menjadi tempat berhaji?

“Haji mabrur” terdiri dari dua kata dimana terdiri dari kata sifat serta perilaku yang disifati. Untuk kata “haji”, mungkin bisa dianggap cukup dipahami sebagai tindakan menyengaja menuju ka’bah di Makkah dengan beberapa syarat serta kewajiban tertentu. Sedang “mabrur”, dalam kamus Lisanul Arab karya Ibn Mandur, berasal dari kata بَرَّ  يَبَرُّ yang berarti bersikap tunduk dengan bentuk masdar بِرٌّ. Tunduk kepada Allah berarti berbaik-baik atau bersikap baik kepada Allah. Sedang mabrur adalah bentuk isim maf’ul yang berarti sesuatu yang disikapi baik atau diterima. Sampai disini haji mabrur dapat diartikan secara bahasa sebagai haji yang diterima.

Istilah “haji mabrur” sudah dikenal semenjak Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dilihat salah satu dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab sahihnya:

Diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah salallahualaihi wasallam pernah ditanya mengenai amal apa yang paling utama? Beliau lalu menjawab “beriman kepada Allah”. Lalu beliau ditanya lagi: “lalu apa lagi?”. “Jihad di jalan Allah” jawab Nabi. “Lalu apa lagi?” beliau ditanya. “Haji Mabrur”.

Hadis-hadis yang menyebutkan “Haji Mabrur” amatlah banyak. Di dalam Sahih Bukhari sendiri setidaknya ada empat hadis yang mencantumkan istilah tersebut. Belum lagi dalam Sahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain.

Mengenai makna dari “Haji Mabrur”, Ibn Hajar al-Asqalani yang merupakan salah satu ahli hadis yang memiliki karya khusus dalam mengupas hadis-hadis dalam Sahih Bukhari, mengungkapkan ada tiga pendapat mengenai makna “haji mabrur”. Pertama, haji yang diterima; kedua, tindakan haji yang tidak dimasuki perilaku dosa; ketiga, haji yang tidak dimasuki sifat riya’.

Makna yang pertama lebih melihat hubungan antara Allah serta pelaksana haji. Istilah haji mabrur dengan makna ini merupakan ungkapan tentang suatu ibadah yang dapat diterima Allah ta’ala. Dapat diterima entah dengan bagaimana pun bentuk dan rupanya. Atau mungkin melihat dari sudut pandang ibadah haji yang dilakukan dapat diterima Allah dalam artian menggugurkan kewajiban si pelaku.

Makna yang kedua lebih melihat pada kesempurnaan ibadah haji tersebut. Ungkapan tidak dimasuki dosa mengindikasikan adanya harapan bahwa ibadah hajinya tidak sekedar diterima dengan apa adanya, tapi juga dapat sempurna dengan tidak dimasuki dengan hal-hal yang menciderai kesempurnaan haji.

Makna yang ketiga barangkali lebih melihat salah satu unsur kesempurnaan haji, yaitu terhindar dari sifat riya’. Riya adalah ungkapan lain dari pamer, yang merupakan sikap ingin agar orang lain tahu tentang hal yang dicapai si pelaku. Bagaimana pun juga, haji adalah capaian yang tak mudah didapat oleh banyak orang. Dalam melaksanakan haji perlu siapan secara fisik dan materi yang tidak sedikit. Maka dapat melaksanakan haji adalah kebanggaan tersendiri oleh sebagian orang. Dari sini sifat riya’ muncul. Entah saat hendak berangkat haji, tatkala haji maupun sesudah melaksanakan haji.

Berbagai uraian tadi memberi kesimpulan bahwa istilah “haji mabrur” sudah ada di zaman Nabi Muhammad dan dimuat dalam beberapa hadis. Oleh karena itu memakai istilah “haji mabrur” sama dengan bertabarruk atau mengharap kebaikan dari kata-kata yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad. Sedang dalam memaknai “haji mabrur” ulama’ berbeda-beda. Namun pada intinya “Haji mabrur” dimaksudkan harapan bahwa haji yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik dan diterima oleh Allah.

Published in BERITA
Friday, 11 August 2017 00:00

Tujuh Hal yang Perlu Disiapkan Saat Haji

Attabayyun.com-Jakarta- Haji merupakan di antara ibadah sakral. Rukun Islam ke-5 ini selain memerlukan tenaga prima, juga memerlukan mental yang cukup karena rangkaian waktu yang dibutuhkan cukup lama (40 hari untuk jamaah haji reguler).

Published in BERITA
Friday, 11 August 2017 00:00

Manasik Haji : Makna dan Kegunaannya

Attabayyun.com-Jakarta- Setelah ditelurusi, kata manasik merupakan fi’il madi dari nasaka–yansuku–naskan. Melalui kata ini, manasik memiliki empat arti. Pertama, manasik diartikan sebagai peribadatan (ibadah) secara umum. Arti ini sebagaimana pengertian dalam firman Allah: “Katakanlah; sesungguhnya salat, ibadah (nusuk), kematian dan kehidupanku itu adalah menjadi otoritas Allah yang menguasi alam semesta.” (Al-An’am: 163). Kedua, bisa berarti sembelihan yang ditujukan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt.

Published in BERITA
Friday, 11 August 2017 00:00

Sepuluh Mandi Sunah Bagi Orang Yang Haji

Attabayyun.com-Jakarta- Tidak seperti shalat yang harus suci mulai awal hingga akhir, ibadah haji boleh dijalankan dalam keadaan tidak suci seperti saat wanita haid, nifas bagi wanita, kentut, bersentuhan lain jenis dan lain sebagainya kecuali saat thawaf. Jika thawaf, orang yang berhaji harus suci dari hadas baik kecil maupun besar serta suci dari najis.

Published in BERITA
Friday, 11 August 2017 00:00

Rukun Haji

Attabayyun.com-Jakarta- Sebagaimana diketahui, rukun ialah sesuatu yang berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya sebuah ibadah. Kalau rukun tidak dikerjakan, ibadah yang dilakukan tidak sah. Dengan demikian, setiap aktifitas yang berkaitan dengan rukun haji harus dilakukan seutuhnya. Kalau tidak dilakukan, haji yang dikerjakan tidak sah dan harus diqadha.

Published in BERITA

Attabayyun.com-Jakarta- Jumlah pasokan bahan bakar minyak pesawat (BBMP) jenis avtur mengalami lonjakan nyaris empat kali lipat pada musim haji 1438 H di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang, Sumatra Barat. Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina BIM merilis bahwa kenaikan avtur mencapai 375 persen dari angka penyaluran normal harian sebesar 120 kiloliter (KL) menjadi 450 KL pada fase pertama keberangkatan 28 Juli hingga 26 Agustus 2017.

Published in BERITA
Tuesday, 01 August 2017 00:00

Lima Hukum Haji

Attabayyun.com-Jakarta- Haji termasuk bagian rukun Islam dan ibadah inti di dalam Islam. Pelaksanaan haji diatur secara detail di dalam Islam, mulai dari waktu pelaksanaan sampai tatacara pelaksanaan. Setiap orang yang memiliki kecukupan harta  dan dikaruniai kesehatan fisik wajib untuk melaksanakan haji sekali seumur hidup.

Di dalam literatur fikih dijelaskan, hukum ibadah haji tidaklah tunggal dan wajib bagi semua orang. Hukum haji dibagi dalam lima kategori: wajib, fardhu kifayah, sunnah, makruh, dan haram.

Haji dikatakan wajib bagi orang yang sudah memenuhi persyaratan haji, semisal sehat, mampu membayar ongkos perjalanan dan akomodasi selama ibadah haji, perjalanan aman, dan persyaratan lainnya.

Haji juga dihukumi fardhu kifayah karena setiap tahun mesti ada yang meramaikan ka’bah (ihya’ ka’bah). Apabila sudah ada sebagian orang Islam yang melakukan ibadah haji pada setiap tahun, maka kewajiban umat Islam lainnya untuk meramaikan ka’bah sudah terpenuhi.

Haji disunnahkan bagi anak-anak kecil atau orang yang berada jauh dari Mekah dan mampu melakukan perjalanan ke baitullah. Bagi orang yang sudah menunaikan ibadah haji, kemudian dia ingin naik haji untuk yang kedua kalinya, haji kedua ini  dihukumi sunnah.

Haji dimakruhkan bagi orang yang dikhawatirkan menderita dan sakit dalam proses pelaksanaan haji ataupun setelahnya. Misalnya, orang miskin dan tidak memiliki kecukupan biaya untuk naik haji, tetapi dia tetap bersikeras berangkat naik haji dengan cara meminta-minta.

Terakhir, haji diharamkan bagi perempuan yang tidak mendapatkan izin dari suaminya untuk berangkat haji atau dia tidak memiliki jaminan keamanan serta tidak ada pendamping dalam perjalanan menuju baitullah. Takutnya dia nanti ditimpa marabahaya dan musibah.

 

(Disarikan dari Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah yang disusun oleh Hasan bin Ahmad al-Kaf

Published in BERITA
Tuesday, 25 July 2017 00:00

Perjalanan Haji Abdullah yang Terhenti

Attabayyun.com-Jakarta- Perjalanan haji Abdullah bin Mubarak ke Tanah Suci terhenti kala ia sampai di kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu itik. Dari bau dan leher yang tidak disembilih, Abdullah tahu, itik itu adalah bangkai.

“Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?” tanya Abdullah memastikan.

“Bangkai. Aku dan keluarga biasa memakan bangkai ini,” jawab si perempuan.

Ulama hadis yang zuhud ini heran, “Mengapa di kota yang keren ini ada orang menyantap bangkai?”

Dia pun mengingatkan perempuan tersebut bahwa tindakannya adalah haram. Si perempuan menjawab dengan pengusiran. Abdullah pun pergi tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali-kali. Hingga suatu hari perempuan itu menjelaskan perihal keadaannya.

“Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka.”

Hati Abdullah bergetar. Dengkulnya lemas mendengar cerita itu. Segera ia pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal.

“Ambillah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu, Wahai Perempuan.”

Musim haji berlalu. Tapi Abdullah bin Mubarak masih di Kufah. Artinya, ia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia pun memutuskan bermukim sementara di sana, sambil menunggu para jamaah haji pulang ke negeri asal dan ikut bersama rombongan.

Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut antusias masyarakat. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan oran-orang. Tapi Abdullah tidak berbohon.

“Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini,” katanya meyakinkan para penyambutnya.

Sementara itu, kawan-kawannya yang berhaji menyuguhkan cerita lain. “Subhanallah, bukankah kami menitipkan bekal kepadamu saat kami pergi kemudian mengambilnya lagi saat Kau di Arafah?”

Yang lain ikut menanggapi, “Bukankah Kau yang memberi minum kami di suatu tempat sana?”

“Bukankah Kau yang membelikan sejumlah barang untukku,” kata satunya lagi.

Abdullah bin Mubarak semakin bingung. “Aku tak paham dengan apa yang kalian katakan. Aku tak melaksanakan haji tahun ini.”

Hingga malam harinya, dalam mimpi Abdullah mendengar suara, “Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji.”

Demikianlah, cerita Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi kitab an-Nawâdir. (Diterjemahkan oleh Mahbib Khoiron, tinggal di Jakarta)

Published in BERITA
Page 1 of 5