Kelahiran Nabi dan Pertemuan dengan Jibril

Kelahiran Nabi dan Pertemuan dengan Jibril

Rasulullah صلي الله عليه وسلم dilahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di kota Makkah pada pagi hari Senin, 9 Rabi’ul Awwal pada tahun tragedi pasukan bergajah atau biasa dikenal dengan Tahun Gajah. Demikian pendapat yang masyhur dari masyoritas ulama.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah رضي الله عنه bahwa seorang Arab dusun berkata.”Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang puasa hari Senin?” Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda, ”Itu hari di mana aku dilahirkan dan diturunkannya kepadaku wahyu.” [Shahih Muslim No. 1162]

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah pernah menceritakan, ”Ketika aku melahirkannya, dari faraj-ku (kemaluanku) keluarlah cahaya yang karenanya istana-istana negeri Syam tersinari.” Imam Ahmad, ad-Darimi dan periwayat selain keduanya juga meriwayatkan versi yang hampir sama dengan riwayat tersebut.

Sumber lain menyebutkan, telah terjadi irhashat (tanda-tanda awal yang menunjukkan akan diutusnya nabi) ketika kelahiran beliau, diantaranya jatuhnya 14 beranda kekaisaran Persia, padamnya api yang biasa disembah oleh kaum Majusi dan robohnya gereja-gereja di sekitar danau Sawah setelah airnya menyusut.

Az-Zubair bin Bakkar رضي الله عنه berkata, ”Abdullah – ayah Rasulullah صلي الله عليه وسلم – wafat di Madinah saat Rasulullah berusia dua bulan. Ibunya Aminah binti Wahab wafat saat beliau berusia empat tahun. Kakeknya wafat saat beliau berusia delapan tahun. Sebelum wafat, kakeknya mewasiatkan kepada pamannya Abu Thalib. Adapun Al-Waqidi, ia lebih mengunggulkan pendapat bahwa bapak Rasulullah صلي الله عليه وسلم meninggal saat beliau masih dalam kandungan ibunya, ini merupakan bentuk keyatiman yang paling dalam dan paling tinggi tingkatannya.

Setelah beliau dilahirkan, ibundanya mengirim utusan ke kakeknya, Abdul Muththalib untuk memberitahukan kepadanya berita gembira kelahiran cucunya tersebut. Kakeknya lagsung datang dengan suka cita dan memboyong cucunya tersebut masuk ke Ka’bah; berdoa kepada Allah dan bersyukur kepadaNya. Kemudian memberinya nama Muhammad, padahal nama seperti ini tidak populer ketika itu dikalangan bangsa Arab, dan pada hari ketujuh kelahirannya, Abdul Muththalib mengkhitan beliau sebagaimana tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab. Namun terdapat pula riwayat, bahwa beliau صلي الله عليه وسلم lahir dalam kondisi sudah bersunat.

Wanita pertama yang menyusui beliau setelah ibundanya, yaitu Tsuwaibah. Wanita ini merupakan budak wanita Abu Lahab yang saat itu juga tengah menyusui bayinya yang bernama Masruh. Sebelumnya, dia juga telah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib, kemudian menyusui Abu Salmah bin Abdul Asad al-Makhzumi setelah menyusui beliau.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم didatangi oleh Jibril saat beliau tengah bermain bersama-sama teman-teman sebayanya. Jibril menangkap dan merebahkan beliau di atas tanah lalu membelah jantungnya, kemudian mengeluarkannya, dari jantung ini dikeluarkan segumpal darah. Jibril berkata, “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu (sehingga bila tetap ada, ia dapat memperdayaimu)!”

Kemudian mencuci jantung tersebut dengan air zamzam di dalam baskom yang terbuat dari emas, lalu memperbaikinya dan menaruh di tempat semula. Teman-teman sebayanya tersebut berlari mencari ibu susuannya (Halimah) seraya berkata,” Muhammad telah dibunuh!” Mereka akhirnya beramai-ramai menghampirinya dan menemukannya dengan rona muka yang sudah berubah. Anas رضي الله عنه (periwayat hadits) berkata, “Sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada beliau.”

Setelah peristiwa tersebut, Halimah merasa khawatir atas diri beliau sehingga dikembalikan lagi kepada ibundanya. Beliau صلي الله عليه وسلم tinggal bersama ibundanya sampai berusia enam tahun. Ibunda beliau, Aminah meninggal dunia setelah pulang berziarah ke makam suaminya, Abdullah di Yatsrib (Madinah) bersama Muhammad. Aminah terserang penyakit hingga akhirnya meninggal di suatu tempat bernama al-Abwa’, yang terletak diantara kota Makkah dan Madinah.

 

Referensi bacaan:

Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad صلي الله عليه وسلم dari Kelahiran Hingga Detik-detik Terakhir, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Darul Haq – cetakan XIV, Jakarta
Ringkasan Al-Bidayah Wan-Nihayah, Al-Hafizh Ibnu Katsir, Pustaka As-Sunnah – cetakan I, Jakarta