Di Dalam Masjid, Perhatikan Adabnya - Foto by Google Di Dalam Masjid, Perhatikan Adabnya - Foto by Google

Di Dalam Masjid, Perhatikan Adabnya Featured

Attabayyun.com-Jakarta- MASJID merupakan tempat yang paling istimewa bagi kita. Mengapa? Sebab, masjid merupakan rumah Allah SWT. Di mana setiap orang muslim bisa mendekatkan diri kepada-Nya di masjid dengan penuh kekhusyuan. Dan masjid merupakan tempat yang paling aman juga tenteram. Kita bisa mengadu kepada Allah SWT sepuas hati.

Meski begitu, layaknya seseorang yang akan bertemu dengan orang penting, maka kita perlu memperhatikan etikanya. Begitu pula ketika di dalam masjid. Ada adab-adab tertentu yang harus kita perhatikan. Apa sajakah itu?

1. Shalat Tahiyatul Masjid

Di antara adab ketika memasuki masjid adalah melaksanakan shalat dua rakaat sebelum duduk. Shalat ini diistilahkan para ulama dengan shalat tahiyatul masjid. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk,” (HR. Bukhari no.537 dan Muslim no. 714).

2. Mengagungkan Masjid

Bentuk pengagungan terhadap masjid berupa hendaknya seseorang tidak bersuara dengan suara yang tinggi, bermain-main, duduk dengan tidak sopan, atau meremehkan masjid. Hendaknya juga ia tidak duduk kecuali sudah dalam keadaan berwudhu untuk mengagungkan rumah Allah SWT dan syariat-syariat-Nya. Allah SWT berfirman, “Demikianlah (perintah Allah) dan Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati,” (QS. Al-Hajj: 32).

3. Menuggu Ditegakkannya Shalat dengan Berdoa dan Berdzikir

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata, “Setelah shalat dua rakaat hendaknya orang yang shalat untuk duduk menghadap kiblat dengan menyibukkan diri berdzikir kepada Allah, berdoa, membaca Al-Quran, atau diam dan janganlah ia membicarakan masalah duniawi belaka,” (AI-Mughni karangan Ibnu Qudamah رحمه االه jilid 2 halaman 119).

4. Anjuran untuk Berpindah Tempat Ketika Merasa Ngantuk

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk, saat berada di masjid, maka hendaknya ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat lain,” (HR. Bukhari dan Muslim dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab shahih targhib wattarhib no.326).

5. Dibolehkan untuk Tidur Di Masjid

Dibolehkan tidur di dalam masjid bagi orang yang membutuhkannya. Semisal orang yang kemalaman atau yang tidak punya sanak saudara dan lainnya. Dahulu para sahabat Ahli Suffah (orang yang tidak punya tempat tinggal), mereka tidur di dalam masjid.

6. Boleh Makan dan Minum di Masjid

Makan dan minum di dalam masjid dibolehkan asal tidak mengotori masjidnya. Berdasarkan hadis dari Abdullah bin Harits Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata, “Kami makan daging bersama Rasulullah ﷺ di dalam masjid,” (HR. Ibnu Majah no 3311 dan dinilai shahih oleh Syeikh AI-Albani dalam Mukhtasor Syamail Muhammadiyyah no.139).

7. Menjaga dari Ucapan yang Jorok dan Tidak Layak di Masjid

Tempat yang suci tentu tidak pantas kecuali untuk ucapan-ucapan yang suci dan terpuji pula. Oleh karena itu, tidak boleh bertengkar, berteriak-teriak, melantunkan syair yang tidak baik di masjid, dan yang semisalnya. Demikian pula dilarang berjual beli di dalam masjid dan mengumumkan barang yang hilang. Nabi ﷺ bersabda (yang artinya), “Apabila kamu melihat orang menjual atau membeli di masjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberi keberuntungan dalam jual belimu!’ Dan apabila kamu melihat ada orang yang mengeraskan suara di dalam masjid untuk mencari barang yang hilang, katakanlah, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu’.”

8. Tidak Mengambil Tempat Khusus di Masjid

Nabi ﷺ melarang seorang shalat seperti gagak mematuk, melarang duduk seperti duduknya binatang buas, dan mengambil tempat di masjid seperti unta mengambil tempat duduk. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Hikmahnya adalah karena hal tersebut bisa mendorong kepada sifat pamer, riya dan sumah, serta mengikat diri dengan adat dan ambisi. Demikian itu merupakan musibah. Maka dari itu, seorang hamba harus berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjerumus ke dalamnya,” (Kanzul ‘Ummal jilid VII halaman 458). []

Sumber: Muslim.Or.Id