Masjid Keramat Luar Batang: Wisata Rohani di Kota Tua Jakarta Utara

Masjid Keramat Luar Batang: Wisata Rohani di Kota Tua Jakarta Utara Featured

Attabayyun.com-Jakarta- Masjid Keramat Luar Batang menjadi lokasi wisata rohani bagi masyarakat muslim. Apalagi di saat bulan Ramadan. Banyak peziarah yang sengaja datang dari berbagai daerah di Indonesia dan bahkan mancanegara seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Yaman, hingga Mesir. Selain berdoa, mereka juga membaca Alquran di depan makam almarhum Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, penyebar agama Islam di Batavia era kolonial. Lokasinya di Kampung Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.


Terik matahari terasa menyengat kulit, Rabu (3/9) siang. Memasuki Kampung Luar Batang yang padat penduduk itu, C&R harus mengemudikan kendaraan secara perlahan. Jalan masuk memang terbilang sempit, hanya selebar tiga meter. Jika ada dua mobil berpapasan, salah satu harus mengalah dengan berhenti terlebih dulu. Jalan berkelok-kelok, mengular sepanjang kira-kira satu kilometer. Tak ramai mobil yang melintas di jalan yang diberi nama Luar Batang II itu.

Papan nama yang ditulis dengan cat putih tampak mulai memudar. Huruf-hurufnya mulai agak kabur meski tetap terbaca. Di kawasan itulah berdiri tegak Masjid Jami Keramat Luar Batang, rumah ibadah umat Islam yang sangat terkenal di kalangan peziarah dan wisatawan rohani.


Kawasan itu sangat padat karena lokasinya yang berdekatan dengan berbagai kegiatan nelayan; perdagangan ikan (lelang ikan berlangsung dari sore hingga pagi hari), Pelabuhan Sunda Kelapa, industri dan perdagangan, serta aktivitas perkantoran dan perbengkelan. Namun, wajah para peziarah tetap terlihat teduh dan tenang. Apalagi dari arah masjid lamat-lamat terdengar puluhan orang melantunkan ayat-ayat suci Alquran.


Untuk mencapai lokasi Masjid Keramat Luar Batang, tergolong mudah. Arahkan kendaraan menuju Pintu Tol Sunda Kelapa atau ke arah Muara Baru, setelah itu akan bertemu dengan Aparteman Mitra Bahari. Lima meter dari situ menara masjid sudah tampak dengan jelas.


Masjid Keramat Luar BatangMasjid Keramat Luar Batang didirikan oleh Habib Husein bin Abubakar Alaydrus pada tahun 1739 Masehi. Ia adalah ulama dari Yaman Selatan (Hadramaut). Ketika tiba di Indonesia, Batavia masih dalam kekuasaan Sir Raffles. Habib Husein merupakan pendatang pertama sebelum para imigran keturunan Arab lainnya kemudian ditempatkan di Kampung Pekojan, Jakarta Barat.


Kehadiran Habib Husein bin Abubakar Alaydrus di Batavia menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat. Banyak orang yang datang ke rumahnya di Kampung Baru untuk belajar agama Islam. Di lain pihak, pemerintah kolonial khawatir keberadaan Husein mengganggu keamanan kekuasaan mereka. Akhirnya, penjajah menangkap Husein dan para pengikutnya serta memasukkan mereka ke penjara di kawasan Glodok.


Seiring perjalanan waktu, takdir berkata lain. Habib Husein bin Abubakar Alaydrus meninggal pada usia muda ketika namanya mulai harum di masyarakat luas di Batavia. Ia wafat pada usia sekitar 30 hingga 40 tahun. Almarhum dimakamkam di masjid itu pada hari Kamis 27 Ramadan 1169 Hijriyah atau 24 Juni 1756. Alaydrus dikabarkan meninggal dunia saat masih bujangan.


Arsitektur MasjidKini, masjid tersebut merupakan salah satu bagian dari bukti sejarah panjang penyebaran agama Islam di Jakarta. Masjid yang dibangun di atas tanah seluas 3.000 meter persegi itu berarsitektur gaya masjid Jawa Kuno dan Timur Tengah yang ditandai dengan kehadiran menara setinggi 50 meter.

Seluruh bangunan masjid mampu menampung 3.000 jemaah. Di dalam masjid terdapat 12 pilar bercat putih setinggi enam meter. Tiang itu merupakan kediaman rumah Habib Husein bin Abubakar Alaydrus ketika ia masih hidup.


Hingga kini, masjid tua itu masih sering didatangi para pengunjung bukan hanya dari Ibu Kota tapi juga dari berbagai belahan daerah di Indonesia. Seperti dari Jawa, Kalimantan, serta dari peziarah dari mancanegara, Malaysia, Brunei, Singapura, Yaman, bahkan Mesir. Itu sebabnya, keberadaan makam Habib Husein menarik perhatian para wisatawan yang ingin menyaksikan tempat-tempat bersejarah di Ibu Kota.


Bila mengunjungi Masjid Luar Batang pada malam Jumat kita akan mendapati ribuan peziarah yang datang dari berbagai tempat di Jawa dan Sumatera. Ini terlihat dari nomor polisi mobil-mobil yang diparkir di pintu gerbang depan Museum Bahari. Banyak di antara peziarah menginap di makam itu. Sepanjang malam mereka membaca ayat suci di depan makam almarhum. Tidak heran bila jemaah salat subuh di hari Jumat meluber hingga ke pekarangan masjid.


Selain banyaknya pengunjung, setiap tahun masjid ini juga menyelenggarakan sejumlah acara. Antara lain perayaan atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan atau haulnya Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus pada Minggu terakhir di bulan Syawal, perayaan Akhir Ziarah pada bulan Sya'ban yaitu tiga hari atau tujuh hari menjelang bulan suci Ramadan.


Latar Belakang Historis Kampung Luar BatangSecara historis, awalnya lokasi Kampung Luar Batang merupakan daerah rawa. Lama-kelamaan daerah ini teruruk oleh lumpur dari Kali Ciliwung, terutama setelah berdirinya Kampung Muara Baru yang kini merupakan kawasan padat penduduk tidak jauh dari Luar Batang.

Sejak masa VOC, penguasa kolonial yang sering mendatangkan tenaga kerja guna membangun pelabuhan dan kastil Batavia menempatkan para pekerja yang berdatangan dari berbagai daerah itu di Kampung Luar Batang.


Kampung Luar Batang terletak di belakang Gedung Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, sebuah kawasan kota tua di Jakarta Utara. Kampung yang persisnya terletak di Kelurahan Penjaringan ini merupakan permukiman tertua di Jakarta mengingat perkiraan terbentuknya keberadaan permukiman ini sejak tahun 1630-an.


Pada abad ke-17, tidak lama setelah berdirinya VOC, permukiman itu merupakan tempat persinggahan sementara para awak (tukang perahu) pribumi yang ingin masuk ke Pelabuhan Batavia (Sunda Kelapa). Saat itu, pemerintah kolonial memberlakukan  peraturan yang tidak mengizinkan perahu-perahu pribumi masuk ke alur pelabuhan pada malam hari. Demikian juga tidak boleh ke luar pelabunan di waktu yang sama.


Selain itu, seluruh perahu yang ke luar-masuk harus melalui pos pemeriksaan yang terletak di mulut alur pelabuhan. Di pos ini diletakkan batang (kayu) yang merintangi sungai guna menghadapi perahu-perahu yang ke luar-masuk pelabuhan sebelum diproses. Setiap perahu pribumi yang masuk, akan diperiksa barang muatannya. Tentu saja senjata-senjata yang dibawa harus terlebih dahulu dititipkan di pos penjagaan. Sedangkan perahu-perahu pribumi yang tidak bisa masuk pelabuhan, harus menunggu pagi hari di luar batang (pos pemeriksaan).


Ada kalanya mereka menunggu beberapa hari sampai ada izin masuk pelabuhan. Selama menunggu, sebagian awak perahu turun ke darat. Kemudian mereka membangun pondok-pondok sementara. Lambat laun, tempat ini dinamakan Kampung Luar Batang, yakni permukiman yang berada di luar pos pemeriksaan.