Sejarah Masjid Tiban

Sejarah Masjid Tiban Featured

Attabayyun.com-jakarta- Istilah Masjid Tiban konon diberikan oleh seorang supir angkot yang nyeletuk pada penumpangnya kalau ada Masjid Tukul (Tumbuh) dari bumi sekitar tahun 2000-an. Sejak saat itu, banyak rombongan datang seolah-olah ingin mencari kepastian.


Bangunan yang dimaksud Masjid Tiban itu sejatinya adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri’asali Fadlaailir Rahmah. Bangunan berlantai 10 itu mendadak muncul di lingkungan perkampungan karena itu disebut masjid ajaib.

“Namun tidak tahu pastinya isu itu datang dari mana. Hanya katanya-katanya yang hingga sekarang masih melekat di masyarakat,” kata Joko Santoso, salah satu pengurus pesantren. Saat itu ada pengunjung asal Gondanglegi dan Tumpang, Malang. yang mengaku mendapat kabar dari seorang supir kalau ada Masjid Tiban (muncul mendadak). Namun soal siapa supir tersebut hingga kini tidak pernah diketahui.

Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri’asali Fadlaailir Rahmah berlokasi di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur Nomor 10, RT 07/RW 06 Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang. Sekitar 40 kilometer dari pusat kota Malang.

Pondok tersebut didirikan oleh almarhum KH Hadratus Syeikh Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam atau Romo Ahmad. Almarhum Romo Ahmad berpulang pada tahun 2010 pada usia 67 tahun dan dimakamkan di komplek pondok. Makam almarhum yang terletak di bawah bangunan dalam bentuk bunga lotus berkelopak itu menjadi tempat para santri dan pengunjung untuk berziarah.

Pondok Romo Ahmad ini mulai direncanakan pada tahun 1963, namun izinnya baru keluar pada 1978. Sekitar tahun 1987 baru dimulai pembangunannya. Romo Ahmad sendiri diketahui sebagai murid Kiai Sahlan asal Sidoarjo.

Sementara arsitektur yang digunakan untuk merancang bangunan merupakan hasil istikharah. Bangunan itu terus bertambah tergantung istikharah, namun bisa saja dihentikan bahkan dikurangi tergantung Romo Kyai Ahmad saat itu.

Pondok Romo Ahmad ini juga pernah didemo masyarakat karena dianggap aliran sesat sekitar tahun 2000. Saat itu beberapa bagian sempat dihancurkan karena dianggap syirik menyimpan jin dan lain sebagainya.

“Saat itu Bupati dan Kapolres turun untuk menengahi. Mereka yang demo dipersilakan untuk melihat kegiatan pondok dan akhirnya dinyatakan bukan termasuk aliran sesat. Dulu sempat juga ada bangunan kotak, mereka menuduh kita bikin kabah sendiri,” kata H Mustafa, pengurus pesantren.

Mustafa menegaskan pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri’asali Fadlaailir Rahmah, adalah pondok tombo ati (obat hati). Pembelajarannya membersihkan penyakit hati berupa iri dengki, riya dan takabur.

Praktik yang dilakukan dengan mawas diri, suudzon (prasangka buruk) terhadap diri sendiri, namun khusnudzon (prasangka baik) pada orang lain. Sedangkan aliran yang diikuti adalah ahli sunnah wal jamaah yang tidak merasa benar sendiri.

Kini sepeninggal Romo Ahmad, kepemimpinan pondok dilanjutkan oleh istrinya, Nyai Luluk Rifqo Al Mahbubah (58). Ada sekitar 325 orang santri yang menetap bersama keluarganya di komplek pondok. Mereka tinggal sambil terus mengembangkan usaha untuk pesantren.

Sementara jumlah santri yang tidak menetap jumlahnya mencapai ratusan bahkan ribuan, ditambah lagi dengan para jamaah yang tidak pernah terdata jumlahnya. Mereka dengan ikhlas menyumbangkan uang dan tenaganya demi pembangunan komplek pesantren warisan Romo Ahmad.