BREAKING NEWS
Hubungan Simbiosis Pesantren dan Sekolah Formal

Hubungan Simbiosis Pesantren dan Sekolah Formal

Attabayyun.com-Jakarta- Perkembangan dunia pesantren dalam merespon tantangan multi-dimensional di era globalisasi berlangsung begitu cepat dan mudah diamati, terutama setelah era reformasi. Beberapa pesantren masih mempertahankan tradisi salafi dan di saat yang sama membentuk unit-unit pendidikan formal baru, seperti Madrasah Ibtidaiyyah (SD), Madrasah Tsanawiyyah (SMP) dan Madrasah Aliyah (SMA).

Unit-unit pendidikan baru tersebut menyajikan perpaduan antara pengkajian kitab-kitab salaf dan materi pelajaran umum (modern). Pengembangan ini dimaksudkan agar para lulusan pesantren salaf dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan berkualitas serta mampu bersaing secara kompetitif dalam intelektualisme pada bidang-bidang studi umum.


Meski demikian, sekolah formal di lingkungan pesantren ini tetap dilaksanakan tanpa meninggalkan aspek-aspek positif sistem pendidikan Islam salafi sebagai ciri khas pesantren (Dhofier: 1982). Pendidikan formal di sekolah dan nilai-nilai kepesantrenan berfungsi saling melapisi dalam membentuk kepribadian para siswa.

Tuntutan untuk memadukan antara yang salafi (tradisional) dan yang khalafi (modern) secara otomatis akan membawa tantangan tersendiri bagi dunia pesantren. Beberapa faktor seperti perkembangan sains-teknologi, penyebaran arus informasi serta perjumpaan budaya baru dapat menggiring kecenderungan masyarakat akademik di sekolah, termasuk para santri di dalamnya, untuk berfikir rasional dan inklusif.

Civitas akademika di sekolah formal akan dihadapkan pada pilihan-pilihan baru yang menarik dan cukup menggoda untuk diikuti. Terlebih lagi, pilihan-pilihan baru tersebut seringkali dikemas dengan istilah yang mengandung nuansa propaganda yang meskipun dalam taraf tertentu masih bisa dibenarkan, seperti efisiensi, kemajuan, pencerahan, pembaharuan, dan sebagainya.

Pelan tapi pasti, hal ini bisa berdampak pada perubahan-perubahan yang menyangkut pola pikir dan pola hidup para santri yang mengikuti pendidikan di sekolah formal. Para santri ini secara perlahan akan bersikap progresif dan pragmatis sebagai respons atas tuntutan zaman. Gejala ini mesti direspon dengan baik oleh pihak sekolah.

About Author