BREAKING NEWS
×

Warning

JUser: :_load: Unable to load user with ID: 753
Pondok Modern Darussalam Gontor

Pondok Modern Darussalam Gontor Featured

Attabayyun.com-Jakarta- Perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18. Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini.

 

 

 

Saat pondok tersebut dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya. Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.

Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun bahkan pemabuk.

Dengan bekal awal 40 santri, Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Anom Besari. Ketika Kyai Anom Besari wafat, Pondok diteruskan oleh generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari.

Setelah perjalanan panjang tersebut, tibalah masa bagi generasi keempat. Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, dan kemudian kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor. Mereka adalah;

  • KH. Ahmad Sahal (1901-1977)
  • KH. Zainuddin Fanani (1908-1967)
  • KH. Imam Zarkasyi (1910-1985)

Mereka memperbaharui sistem pendidikan di Gontor dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi. Pada saat itu, jenjang pendidikan dasar dimulai dengan nama Tarbiyatul Athfal. Kemudian, pada 19 Desember 1936 yang bertepatan dengan 5 Syawwal 1355, didirikanlah Kulliyatu-l-Muallimin al-Islamiyah, yang program pendidikannya diselenggarakan selama enam tahun, setingkat dengan jenjang pendidikan menengah.

Dalam perjalanannya, sebuah perguruan tinggi bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) didirikan pada 17 November 1963 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1383. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Saat ini ISID memiliki tiga Fakultas: Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab, FakultasUshuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama, dan Akidah dan Filsafat, dan Fakultas Syariah dengan jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, dan jurusan Manajemen Lembaga Keuangan Islam. Sejak tahun 1996 ISID telah memiliki kampus sendiri di Demangan, Siman, Ponorogo.

Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo saat ini dipimpin oleh:

KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi

KH. Hasan Abdullah Sahal

KH. Syamsul Hadi Abdan






About Author

Related items

  • Dakwah KH Muhammad Zaitun Rasmin yang Menggebu untuk Negri Tercinta “Pengembangan Pendidikan Bela Negara di Pesantren”

    Jakarta (Attabayyun.com) - Wakil Sekjen MUI Pusat KH Muhammad Zaitun Rasmin didapuk menjadi pemateri dalam Workshop Pengembangan Pendidikan Bela Negara yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag RI) Kamis, 16 Maret 2017 yang lalu. Bertempat di Hotel Sahira Butik, Bogor, Jawa Barat.

  • Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren La Tansa , Lebak Banten
  • Pesantren Khusus Guru Tahfidz Quran Resmi Berdiri di Karawang

    Attabayyun.com-Jakarta- Program Pembibitan Penghafal Al-Qur'an (PPPA) Daarul Qur’an (Daqu) membuka pesantren baru di Desa Cinta Asih, Kecamatan Pangkalan, Karawang, Jawa Barat.

    Pesantren ini diresmikan Pengasuh Pesantren Daarul Qur'an, Ustaz Yusuf Mansur didampingi Presiden Direktur Pertamina Gas (Pertagas)
    "Pesantren ini nantinya menghasilkan guru-guru tahfidz untuk dikirim ke seluruh desa-desa di seluruh Indonesia," kata Ustaz Yusuf Mansur, dalam sambutannya.

    Pesantren Daqu yang satu ini memang berbeda dengan yang sebelumnya. Pesantren yang berdiri di atas tanah seluas hampir 3 hektare (ha) ini mensyaratkan santri yang ada di sini memiliki kualifikasi telah hafidz (hafal) Al-Qur'an 30 Juz.

    “Mereka nantinya akan dididik, mulai dari metodologi untuk menjadi guru-guru tahfidz,” papar Ustadz muda yang terkenal dengan program sedekah dan juga guru serta inspirasi bagi para santri yang berkeinginan kuat guna menjadi penghafal Al-Qur’an, ini.

    Ustaz Yusuf Mansur mengatakan, berbasis kualifikasi tersebut, pesantren ini tak semata rumah untuk belajar agama. Pesantren ini juga bisa menjadi rumah produksi, distribusi, bahkan rumah mode dan lainnya.

    "Untuk tahap awal, kami didik 50 anak muda terbaik selama lima tahun di sini," ujar ustaz yang juga pendiri PPPA Daarul Qur’an ini.

    Mewakili para pekerja Muslim Pertagas yang tergabung dalam Badan Dakwah Islam (BDI) Pertagas, Hendra Jaya menyampaikan rasa terima kasih karena telah diajak berpartisipasi dalam memberikan donasi untuk operasional pesantren ini. “Insya Allah keikutsertaan kami bisa menjadi ladang amal,” ujar Hendra dalam sambutannya.

    Menurut Hendra, para pekerja Pertagas yang tergabung dalam BDI, mendukung penuh ide Ustadz Yusuf Mansur yang ingin mendirikan Pesantren Tahfidz yang lebih advance.

    "Keberadaan pesantren ini penting, karena bisa mencetak kader-kader yang berkualitas. Untuk itu BDI Pertamina Gas menyatakan dukungannya dalam mewujudkan generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan agama," dia menuturkan.

    Pada kesempatan ini, Hendra menyerahkan bantuan dana operasional awal pesantren sebesar Rp 100 juta. Selanjutnya untuk tahap awal, Pertamina Gas telah berkomitmen memberikan bantuan bagi 50 santri selama lima tahun senilai Rp 1 miliar. Penandatangan Nota Kesepahaman kerja sama ini ditandatangani Andri Alfian, Selaku Ketua BDI Pertagas serta Muhammad Anwar Sani, selaku Direktur Utama Yayasan Daarul Qur’an Nusantara.