BREAKING NEWS
Istimewa Istimewa

Tempat-Tempat Istimewa di Masjid Nabawi

Attabayyun.com-Jakarta- Tahukah Anda, Masjid Nabawi ternyata menyimpan sejumlah tempat istimewa di dalamnya? Dikutip dari Madinah Al Munawwarah: Sejarah dan Tempat-Tempat Istimewa, berikut ini lokasi khusus tersebut

 

Kamar Mulia dan Makam Suci

Kamar mulia adalah rumah yang ditempati Rasulullah bersama Ummul Mu'minin Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq. Kamar tersebut terletak di bagian tenggara dari Masjid Nabawi.

Rumah ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Masjid Nabawi. Rumah dibangun dari tanah liat dan batu bata. Luasnya kira-kira mencapai 40 meter persegi yang terdiri atas satu bilik dan halaman kecil yang diberi pagar dari pelepah kurma dan ditutupi kain bulu.

Ia memiliki dua pintu. Salah satunya terbuka menghadap ke utara. Sedangkan lainnya terbuka menghadap ke arah Raudhah di bagian barat rumah.

Rasulullah wafat dan dimakamkan di kamar ini. Aisyah masih tinggal di sana selama sisa hidupnya.

Ketika ayahnya, Abu Bakar As Shiddiq wafat, beliau dimakamkan di belakang baginda Nabi dengan jarak satu dzira' (lengan), dan kepalanya sejajar pundak Rasul.

Dan ketika Umar bin Khattab wafat, dimakamkan pula di kamar tersebut, di belakang Abu Bakar sejarak satu lengan. Kepala Umar sejajar pundak Abu Bakar. Antara Aisyah dan makam terdapat tirai yang menjadi pembatas.

Lalu ketika Aisyah meninggal dunia, ia dimakamkan di Pemakaman Baqi'. Setelah itu, kamar tersebut tidak lagi dihuni.

Sepanjang sejarah, kamar tersebut menjadi perhatian para khalifah dan sultan. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz di Madinah (87-93 H/706-712 M), kamar dibangun ulang menggunakan batu, dan makam dikelilingi tembok yang memiliki lima sisi dengan bagian belakang berbentuk segitiga. Ketika zaman pemerintahan Nuruddin Zanki pada 557 H/1162 M, dibangun sekelilingnya pagar dari timah dan memiliki pondasi yang dalam.

Pada 668 H (1270 M), sultan dari Dinasti Mamalik bernama Al Zahir Baybrus membangun maqshurah (ruangan) dari kayu di sekitar kamar yang mulia. Ruangan itu mencakup rumah Aisyah, tembok segi lima yang mengelilinginya, sebagian areal Raudhah yang mulia dan juga rumah Fatimah. Ruangan tersebut tingginya sekitar 3,5 meter dan mempunyai tiga pintu.

Pada 694 H (1295 M), sultan dari Dinasti Mamalik bernama Zainuddin Katbaga meninggikan ruangan itu hingga mencapai atap. Pada 887 H (1482 M) dan setelah terjadinya kebakaran Masjid Nabawi, Sultan Qaitbay mengganti sisi kiblat ruangan dengan tembaga.

Sedangkan sisi-sisi lainnya dengan besi berwarna hijau, dan di atasnya tembaga bercelah-celah. Ruangan tersebut masih pada bentuknya hingga saat ini dan masih mendapat perhatian penguasa kerajaan Arab Saudi.

 

Raudhah yang Mulia

Raudhah adalah tempat yang terletak di antara rumah Rasulullah yang merupakan kamar Aisyah dan mimbar Nabi Muhammad SAW yang mulia. Dinamakan Raudhah sesuai dengan hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, "Di antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga."

Luasnya sekitar 330 meter persegi. Dinding sisi barat ruangan Nabawi masuk bagian dalam Raudhah. Terdapat beberapa tempat istimewa di areal Raudhah dan di bagian ujungnya, di antaranya kamar Rasulullah yang mulia di bagian timur, mihrab Rasulullah di bagian tengah sisi Raudhah yang menghadap kiblat, dan posisi mimbar yang mulia di bagian baratnya.

Tersebar tiang-tiang dari batu di dalamnya. Sebagian tiang-tiang ini sudah terkenal. Bahkan terkait dengan beberapa kejadian yang tertulis di dalam buku-buku hadits dan sejarah. Ketika zaman Rasulullah, tiang-tiang tersebut terbuat dari batang kurma, di antaranya Tiang Aisyah, Tiang Wufud, Tiang Taubat, Tiang Mukhollaqoh, Tiang Sarir dan Tiang Mahras atau hars.

Raudhah dahulunya menjadi pusat perhatian para pemimpin kaum Muslimin dan masih akan berlanjut demikian. Sultan Utsmaniyyah yang bernama Salim melapisi setengah badan tiang-tiang tersebut dengan marmer putih bercampur merah.

Kemudian Sultan Abdul Majid dari Utsmaniyyah memperbarui tiang-tiang itu dan melapisinya lagi dengan marmer. Pada 1404 H (1994 M), Kerajaan Arab Saudi melapisinya dengan marmer putih istimewa yang berbeda dari tiang-tiang masjid lainnya dan melapisi lantainya dengan karpet mewah dengan hiasan lampu-lampu yang mahal di atasnya.

 

Mihrab-Mihrab

a. Mihrab Nabi

Terletak di dalam Raudhah. Mihrab dibangun Umar bin Abdul Aziz di tempat dimana Rasulullah mengimami shalat para sahabat setelah berpindahnya kiblat menuju Ka'bah. Kemudian dilakukan renovasi pada 888 H (1483 M) ketika pemerintahan Raja Al Asyraf Qaitbay dan masih bertahan hingga kini.

 

b. Mihrab Utsmany

Terletak di bagian depan Masjid Nabawi, tepatnya di dinding kiblat. Mihrab tersebut dibangun oleh Umar bin Abdul Aziz, tepat dimana Khalifah Utsman bin Affan mengimami shalat kaum Muslimin setelah ia memperluas Masjid Nabawi. Kemudian Raja Al Asyraf Qaitbay memperbaruinya pada 888 H (1483 M). Mihrab tersebut masih merupakan posisi imam hingga saat ini.

 

c. Mihrab Tahajjud

Terletak di dinding bagian utara dari rumah Rasulullah. Mihrab ini dibangun tepat dimana Nabi Muhammad melaksanakan shalat tahajud.

 

d. Mihrab Putri Nabi, Fatimah Az Zahra

Terletak di bagian dalam ruangan dimana rumah Fatimah terletak di dalamnya.

 

e. Mihrab Sulaimany atau Mihrab Hanafy

Terletak di tiang ketiga sejajar dengan mimbar yang mulia dari arah barat. Dibangun oleh Tugan Syekh setelah tahun 860 H (1456 M). Ia menempatkan imam dari pengikut mazhab Hanafy, kemudian Sultan Sulaiman Al Qanuni memperbaruinya pada 938 H (1531 M) sehingga mihrab tersebut dinisbatkan ke dirinya.

 

Mimbar Masjid Nabawi

Ketika Nabi Muhammad SAW berkhutbah, beliau bersandar di batang kurma. Kemudian beliau dibuatkan sebuah mimbar yang terdiri dari tiga anak tangga pada tahun ketujuh hijriyah (628 M) atau kedelapan hijriyah (629 M). Mimbar tersebut diletakkan di sebelah barat tempat shalat beliau.

Mimbar tersebut masih tetap kukuh hingga 654 H (1256 M), saat itu mimbar terbakar bersamaan dengan kebakaran yang melanda Masjid Nabawi. Mimbar yang ada saat ini kembali pada masa pemerintahan Sultan Utsmaniyyah bernama Murad pada 998 H (1590 M).

Mimbar Rasulullah mempunyai beberapa keutamaan yang diterangkan dalam hadits nabawi, di antaranya "Antara rumahku dan mimbarku adalah taman di antara taman-taman surga dan mimbarku (kelak) berada di atas telagaku." (HR Bukhari dan Muslim). "Sesungguhnya mimbarku di atas salah satu aliran-aliran surga." (HR Ahmad).

 

Suffah

Suffah adalah sebuah tempat di bagian belakang bangunan lama Masjid Nabawi. Tepatnya di sebalah barat tempat yang sekarang dikenal dengan "dakkatul aghwat", agak ke selatan sedikit. Tempat tersebut tidak memiliki tanda apa pun saat ini.

Rasulullah memerintahkan tempat ini diberi atap dari pelepah kurma. Lalu, tempat tersebut dinamai suffah atau dzhillah (naungan). Tempat tersebut disiapkan untuk persinggahan kaum muhajirin yang belum beristri, para fakir miskin dan para pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal.

Mayoritas pekerjaan penghuni suffah mempelajari Alquran dan hukum-hukum syariah dari Rasulullah atau dari orang yang diutus Rasulullah untuk itu. Apabila waktu perang tiba, orang-orang yang mampu dari kalangan mereka keluar untuk berjihad. Sebagian sahabat Nabi dari golongan mereka merupakan tokoh terkenal. Salah satu yang menonjol adalah Abu Hurairah.