Tuesday, 24 January 2017 00:00

Cara Berdakwah Yang Baik

Published in BERITA
Tuesday, 17 January 2017 00:00

5 Muslim Terkaya Di dunia Saat ini

Attabayyun.com-Jakarta-

Orang Islam terkaya Diindonesia Pengaruh Islam memanglah tak sebesar zaman Rasulullah masih hidup serta zaman sahabat-sahabat beliau. Saat ini Islam berkembang dengan sangat banyak desakan dari beragam pihak. Terutama karenanya ada segelintir orang yang mengakibatkan nama Islam tercoreng. Bahkan juga dikira juga sebagai sarang teroris.

Published in BERITA
Wednesday, 30 November 2016 00:00

Warga Budha: Muslim Itu Sangat Ramah

Published in BERITA
Friday, 07 October 2016 00:00

Non Muslim Maskuk Masjid ? Bolehkah

 Masjid, kini bukan hanya dijadikan sebagai tempat beribadah saja. Terkadang, masjid pun dijadikan tempat untuk membahas urusan dunia. Banyak manusia yang berlalu lalang. Bahkan, ada yang sengaja pergi ke masjid hanya untuk sekadar beristirahat, bukan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Kini, masjid seakan berfungsi untuk siapa saja. Siapa pun bisa masuk ke dalamnya. Termasuk non Muslim. Tapi, apakah syariat memperbolehkan non Muslim masuk masjid?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum orang non Muslim masuk masjid.

Pertama, orang non Muslim tidak boleh masuk masjid, baik masjid di tanah haram (Mekah) maupun masjid di luar tanah haram. Ini adalah pendapat imam Ahmad dalam salah satu riwayat beliau.

Hanya saja, sebagian ulama Hambali membolehkan jika ada maslahat untuk kepentingan masjid, seperti memperbaiki bangunan atau semacamnya.

Al-Buhuti – ulama madzhab hambali – mengatakan, “Tidak boleh bagi orang kafir untuk masuk masjid meskipun di selain tanah haram, sekalipun dengan izin orang muslim. Berdasarkan firman Allah, ‘Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir,’ (QS. At-Taubah: 18). Yang boleh masuk masjid adalah orang kafir zimmi, termasuk mu’ahid dan musta’min, ketika mereka dipekerjakan untuk memperbaiki masjid, karena ini untuk kemaslahatan masjid,” (Kasyful Qana’, 6:265).

Di antara dalil mereka yang mengambil pendapat ini adalah riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu pernah melihat ada orang majusi di dalam masjid ketika beliau sedang berkhutbah di atas mimbar. Kemudian Ali turun, dan memukulnya serta menyuruhnya keluar. Pendapat ini juga yang menjadi pendapat Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘Anhu. Karena jika orang muslim yang junub tidak boleh masuk masjid maka orang musyrik lebih layak dilarang masuk masjid (Mathalib Uli an-Nuha, 2/617).

Kedua, orang non Muslim boleh masuk masjid, jika diharapkan dia bisa masuk Islam dengan melihat aktivitas kaum muslimin di masjid atau mendengar ceramah. Ini pendapat al-Qodhi Abu Ya’la – ulama hambali –. Dengan syarat, mendapat izin dari salah satu orang muslim. Keterangan beliau dinukil dalam Mathalib Ilin Nuha, “Boleh bagi orang kafir untuk masuk masjid dengan izin dari seorang muslim, jika diharapkan dia masuk Islam. Karena Nabi ﷺ pernah kedatangan tamu dari Thaif, dan beliau menyuruh mereka untuk singgah di dalam masjid, dan mereka belum masuk Islam,” (Mathalib Uli an-Nuha, 2:617).

Ketiga, larangan masuk masjid untuk orang non Muslim, hanya berlaku untuk Masjidil Haram dan bukan masjid lainnya. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafii, Ibnu Hazm, al-Albani, Ibnu Utsaimin dan beberapa ulama lainnya.

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini,

Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Karena itu, janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini (tahun 9 H),” (QS. At-Taubah: 28).

Al-Qurthubi menukil keterangan Imam asy-Syafii yang mengatakan, “Ayat ini mencakup umum seluruh orang musyrik, terutama ketika masuk Masjidil Haram. Dan mereka tidak dilarang untuk masuk masjid lainnya. Karena itu, Dia membolehkan orang Yahudi atau Nasrani masuk ke masjid-masjid lainnya,” (Tafsir al-Qurthubi, 8:105).

Keterangan yang sama juga disampaikan Ibnu Hazm, dalam al-Muhalla beliau mengatakan, “Allah mengkhususkan hukum untuk Masjidil Haram, karena itu tidak boleh diberlakukan untuk masjid yang lain tanpa dalil,” (al-Muhalla, 3:162).

Praktek Rasulullah ﷺ

Di antaranya, keterangan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, “Nabi ﷺ pernah mengutus beberapa penunggang kuda ke arah Nejd, tiba-tiba utusan itu kembali dengan membawa tawanan yang bernama Tsumamah bin Utsal, pemimpin suku daerah Yamamah. Mereka pun mengikatnya di salah satu tembok Masjid Nabawi. Kemudian Nabi ﷺ mendekati Tsumamah, lalu beliau memerintahkan, ‘Lepaskan Tsumamah.’ Kemudian Tsumamah menuju kebun kurma dekat masjid, beliau mandi lalu masuk masjid, dan menyatakan masuk Islam dengan bersyahadat. Laa ilaaha illallaah muhammadur Rasulullah,” (HR. Bukhari 2422 dan Muslim 1764) .

InsyaAllah inilah pendapat yang lebih kuat, berdasarkan praktek makna teks ayat dan praktek Rasulullah ﷺ. Al-Khatib asy-Syarbini mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih, bahwa beliau ﷺ memasukkan orang non Muslim ke dalam masjid beliau, dan itu terjadi setelah turun surat At-Taubah, surat ini turun di tahun 9 Hijriyah. Sementara beliau menerima banyak tamu pada tahun 10 Hijriyah, dan di antara mereka ada orang Nasrani Najran. Dan mereka suku pertama yang terkena kewajiban jizyah. Nabi ﷺ menyuruh mereka singgah di dalam masjid, dan beliau juga berdebat dengan mereka tentang Al-Masih dan yang lainnya,” (Mughni al-Muhtaj, 6:68). Wallahu a’lam.

Published in PROFIL

6. Tidak Memanjangkan Pakaian Hingga Melewati Mata Kaki (Isbal)

Hadis-hadis yang melarang isbal (bagi laki-laki) sangat banyak, bahkan mencapai batas hadis mutawatir maknawi. Hadis-hadis dalam masalah ini diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Huraira, Anas, Abu Dzar, dan selain mereka Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’iin.

Sabda Rasulullah ﷺ, “Kain sarung yang terjulur di bawah mata kaki tempatnya ialah di neraka,” (HR. Bukhari: 5787).

Beliau juga bersabda, “Tiga macam orang yang pada hari kiamat nanti Allah tidak akan mengajak bicara, tidak melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” Kemudian beliau melanjutkan, “(Yaitu) musbil (orang yang isbal), mannaan (orang yang mengungkit-ungkit pemberian), dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu,” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh al-Albaaniy).

Oleh karena itu, pengharaman isbal secara umum bagi laki-laki merupakan perkara yang disepakati oleh para ulama.

7. Tidak Memakai Emas dan Pakaian Sutra

Emas dan pakaian sutra haram dipakai oleh kaum laki-laki, tetapi boleh bagi kaum wanita. Rasulullah ﷺ bersabda, “Emas dan sutra dihalalkan bagi kaum wanita dari umatku, dan diharamkan bagi kaum laki-laki,” (HR. Ahmad dan Nasaa’i, lihat Shahiihul Jaami’: 209).

8. Tidak Menyerupai Pakaian Orang Non Muslim

Di antara sikap yang seharusnya dimiliki seorang muslim ialah berusaha menyelisihi setiap urusan orang-orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Musyrik (Hindu, Budha, dan selainnya). Penyelisihan ini mencakup juga penyelisihan dalam hal berpakaian.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka,” (HR. Abu Dawud, Syakh al-Albani mengatakan, “hasan shahiih”).

9. Tidak Menyerupai Wanita

 

Disadari atau tidak, perkara ini telah tersebar di zaman sekarang ini. Kita banyak mendapatkan sebagian pemuda yang menyerupai kaum wanita dalam berpakaian, berhias, dan memilih warna. Padahal, perkara itu merupakan perkara yang dilaknat oleh Allah Ta’ala. Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki, dan laki-laki yang menyerupai wanita,” (HR. Bukhari 5885).

Beliau juga bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki,” (HR. Abu Dawud dan Hakim, lihat Shahiihul Jaami’: 5095).

10. Bersyukur dan Mengamalkan Doa-doa yang Berkaitan Dengannya

Segala kenikmatan yang diperoleh oleh seseorang merupakan karunia dari Allah Ta’ala semata. Demikian juga dengan pakaian, di mana hal tersebut merupakan kenikmatan yang sangat agung, juga merupakan karunia dari Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik,” (QS. Al-A’raf: 26).

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita bersyukur atas itu semua, baik dengan hati, lisan, dan anggota badan kita.

Di sisi lain, sebagai bentuk kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada kita, beliau telah mengajarkan doa-doa khusus yang berkaitan dengan pakaian. Mulai dari doa ketika kita memakai pakaian baru, doa kepada orang yang memakai pakaian baru, dan doa-doa lainnya. Maka, hendaknya seorang muslim bersemangat dalam menghafal dan mengamalkan doa-doa tersebut.

Itulah 10 adab berpakaian bagi seorang lelaki muslim. Ya, lelaki muslim harus bisa memenuhi adab-adab dalam Islam. Sehingga, hal itulah yang membedakan dirinya dengan non muslim. Dengan begitu, derajatnya di mata manusia lain akan jauh berbeda, terutama di mata Allah SWT.

HABIS

Sumber: muslim.or.id

Published in BERITA
Page 2 of 3