KH Dimyati Romi Titipkan Pengembangan Pesantren Darul Ulum KH Dimyati Romi Titipkan Pengembangan Pesantren Darul Ulum

KH Dimyati Romi Titipkan Pengembangan Pesantren Darul Ulum Featured

Attabayyun.com-Jakarta- KH Dimyati Romli, Ketua Umum Majelis Pimipinan Pondok Pesantren Darul Ulum, Kabupaten Jombang Jawa Timur, berpulang, Rabu(18/5/2016) pukul 13.00 di Rumah Sakit Airlangga, Jombang. Gus Dim dimakamkan di kompleks pesantren. Kiai Nahdlatul Ulama yang juga memimpin tarekat Qadiriyah Wanaqsabandiyah itu menitipkan pengembangan pondok pesantrennya kepada santri dan pengurus.

Zulfikar As'ad, Keponakan KH Dimyati Romli atau yang biasa dipanggil Gus Dim, Rabu (18/5), di Jombang saat dihubungi dari Jakarta, menuturkan, pamannya itu telah lama menderita diabetes. "Baru tiga hari ini dirawat di rumah sakit karena kondisinya terus menurun. Awalnya, beliau tidak mau dirawat karena ingin dekat dengan keluarga. Tetapi karena kondisinya terus melemah dan menurun, beliau langsung dibawa ke rumah sakit," ujar putra KH As'ad Umar tersebut.

KH As'ad Umar dan KH Dimyati Romli adalah saudara satu buyut, atau memiliki hubungan kekerabatan sebagai sepupu. Keduanya dikenal sebagai pengurus Ponpres Darul Ulum di Kecamatan Peterongan, Jombang, yang juga merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia. Ponpres yang berdiri pada tahun 1885 itu menjadi salah satu rujukan bagi warga NU lantaran kualitas pendidikannya yang utama. Hingga saat ini, Darul Ulum memiliki 12 sekolah formal yang dipadukan dengan pendidikan keagamaan tradisional dengan sistem pemondokan atas asrama.

"Gus Dim menitipkan Ponpes Darul Ulum kepada santri dan keluarganya yang lain. Ia berpesan agar kami selalu menjaga kekompakan dan terus mengembangkan pendidikan di Darul Ulum. Kualitas pendidikan pesantren NU menjadi perhatian beliau," kata Zulfikar.

Zulfikar mengatakan sampai saat ini, pondok pesantren itu memiliki tujuh sekolah unggulan dari 12 sekolah yang didirikan Darul Ulum, mulai tingkat madrasah ibtidaiyah (MI/SD), madrasah tsanawiyah (MTS/SMP), madrasah aliyah (MA/SMA), dan universitas.

Suroso, mantan santri Gus Dim, mengatakan, ulama asal Jombang itu orang yang hangat dan peduli kepada pendidikan. "Pada saat-saat terakhir, saya bertemu beliau, saya disuruh pulang ke Jombang. Dia berpesan agar saya jangan lama-lama di Jakarta dan segera pulang ke Jombang untuk membesarkan pesantren," kata Suroso yang juga anggota staff Sekretariat PBNU itu.

Sumber : Koran Kompas