Pondok Pesantren Suryalaya - Foto By Google Pondok Pesantren Suryalaya - Foto By Google

Pondok Pesantren Suryalaya Featured

Attabayyun.com-Jakarta- Suryalaya adalah sebuah nama pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pesantren ini terkenal dengan "Inabah" sebuah program yang dikhususkan untuk mengobati para pecandu narkoba dengan metode dzikir

 

Sejarah

Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh sejak awal tahun 1905. Pada masa perintisan, mengalami banyak hambatan dan rintangan. Hambatan tersebut datang dari pemerintah kolonial Belanda, masyarakat sekitar pesantren dan juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan. Hingga akhirnya pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Abah Sepuh dapat mendirikan sebuah pesantren, berupa sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Nama "Suryalaya" diambil dari istilah Sunda yaitu "Surya = Matahari" dan "Laya = Tempat Terbit". Jadi, Suryalaya secara harfiah mengandung arti "Tempat Matahari Terbit.

 

Kepemimpinan

Abah Sepuh (1836-1958)

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau [[Abah Sepuh]] memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sejak awal didirikan. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Sejak saat itu Pondok Pesantren Suryalaya dikenal sebagai pusat kegiatan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dia dibantu oleh sembilan orang wakil talqin. Pada tahun 1956 di usian ke-120 tahun, Abah Sepuh wafat. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom.

 

Abah Anom (1956-2011)

Pada masa awal kepemimpinan, Abah Anom mengalami banyak kendala antara lain pemberontakan DI/TII. Pada masa itu, Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara. Setelah pemberontakan DI/TII dan PKI berhasil dilumpuhkan, perkembangan Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju. Faktor yang paling dominan adalah banyaknya masyarakat dari berbagai daerah yang ingin belajar Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Pada tanggal 11 Maret 1961I atas prakarsa alm. H. Sewaka mantan Gubernur Jawa Barat (1947-1952) dan mantan Menteri Pertahanan RI alm. Iwa Kusuma Sumantri (1952-1953), dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setelah pembentukan Yayasan Serba Bakti, Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke manca negara di antaranya: Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand, Australia, dan negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian, ajaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pun semakin luas perkembangannya. Maka untuk membantu tugas Abah Anom sebagai mursyid, dia mengangkat para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan di beberapa negara di luar negeri.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, pertanian, kesehatan, lingkungan hidup, dan kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.

 

Lembaga Pendidikan

Lembaga Pendidikan Formal

Lembaga-lembaga Pendidikan pada masa Abah Anom, Secara langsung atau tidak langsung, berperan serta dalam mengembangkan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Jika pengembangan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pada masa Abah Sepuh terbatas melalui media tradisional pesantren, maka dimasa kepemimpinan Abah Anom, selain menggunakan media tradisional yang telah ada, juga melalui lembaga pendidikan formal yang didirikannya dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi semuanya amat berperan dalam mengembangkan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Lembaga pendidikan yang ada dilingkungan Pondok Pesantren Suryalaya terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan formal yang ada terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan formal umum dan Keagamaan.

 

 

Pendidikan Formal Umum

Taman Kanak-kanak

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Sekolah Menengah Umum

Sekolah Menengah Kejuruan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Latifah Mubarokiyah

Madrasah Tsanawiyah

Madrasah Aliyah

Madrasah Aliyah Keagamaan

Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah

 

Lembaga Pendidikan Non-Formal

Pengajian Tradisional

 

Inabah

Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab "anaba-yunibu" (mengembalikan), sehingga inabah berarti pengembalian atau pemulihan. Maksudnya ialah proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah. Istilah ini digunakan pula dalam Al-Qur’an yakni dalam Luqman surah ke-31 ayat ke-15, Surat ke-42, Al-Syura ayat ke-10; dan pada surat yang lainnya. Abah Anom menggunakan nama inabah menjadi metode bagi program rehabilitasi pecandu narkotika, remaja-remaja nakal, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Konsep perawatan korban penyalahgunaan obat serta kenakalan remaja adalah mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau taat. Metode ini mencakup :

  • Mandi
  • Sholat
  • Talqin Dzikir
  • Pembinaan

Disamping kegiatan-kegiatan tersebut, juga diberikan kegiatan tambahan berupa: Pelajaran baca Al-Qur’an, berdoa, tata cara ibadah, ceramah keagamaan dan olah raga. Setiap anak bina di evaluasi untuk mengetahui sejauhmana perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya. Evaluasi diberikan dalam bentuk wawancara atau penyuluhan oleh ustadz atau oleh para pembina inabah yang bersangkutan. Atas keberhasilan metoda Inabah tersebut, KH.A Shohibulwafa Tajul Arifin mendapat penghargaan “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse, dan juga penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya di bidang rehabilitasi korban Narkotika dan Kenakalan remaja.

Inabah terletak di beberapa lokasi:

Pondok Remaja Inabah I Malaysia : Kuala Nerang, Kedah, Malaysia

Pondok Remaja Inabah VII : Kp. Rawa,Sukahening Rajapolah - Tasikmalaya

Pondok Remaja Inabah XI : Kp. Ciseuti,Pagersari, Pagerageung - Tasikmalaya

Pondok Remaja Inabah XIV : Pagerageung Kab. Tasikmalaya

Pondok Remaja Inabah XVII Putri : Sukamulya, Cihaurbeuti Kab. Ciamis

Pondok Remaja Inabah XVIII : Cijulang, Cihaurbeuti Kab. Ciamis

Pondok Remaja Inabah XIX : Jl. Sidotopo Kidul No. 146-148 Surabaya

Pondok Remaja Inabah XX : Desa Puteran, Kec. Pagerageung, Kab. Tasikmalaya

Pondok Remaja Inabah XXIV : Sindangherang Kec. Panumbangan Kab. Ciamis

Pondok Remaja Inabah XXV : Banjarangsana, Kab. Ciamis

Pondok Remaja Inabah XXVI : Desa Tanjungkerta, Kec. Pagerageung, Kab. Tasikmalaya

Pondok Remaja Inabah XXVII : Pagerageung, Tasikmalaya