Tuesday, 01 August 2017 00:00

Lima Hukum Haji

Attabayyun.com-Jakarta- Haji termasuk bagian rukun Islam dan ibadah inti di dalam Islam. Pelaksanaan haji diatur secara detail di dalam Islam, mulai dari waktu pelaksanaan sampai tatacara pelaksanaan. Setiap orang yang memiliki kecukupan harta  dan dikaruniai kesehatan fisik wajib untuk melaksanakan haji sekali seumur hidup.

Di dalam literatur fikih dijelaskan, hukum ibadah haji tidaklah tunggal dan wajib bagi semua orang. Hukum haji dibagi dalam lima kategori: wajib, fardhu kifayah, sunnah, makruh, dan haram.

Haji dikatakan wajib bagi orang yang sudah memenuhi persyaratan haji, semisal sehat, mampu membayar ongkos perjalanan dan akomodasi selama ibadah haji, perjalanan aman, dan persyaratan lainnya.

Haji juga dihukumi fardhu kifayah karena setiap tahun mesti ada yang meramaikan ka’bah (ihya’ ka’bah). Apabila sudah ada sebagian orang Islam yang melakukan ibadah haji pada setiap tahun, maka kewajiban umat Islam lainnya untuk meramaikan ka’bah sudah terpenuhi.

Haji disunnahkan bagi anak-anak kecil atau orang yang berada jauh dari Mekah dan mampu melakukan perjalanan ke baitullah. Bagi orang yang sudah menunaikan ibadah haji, kemudian dia ingin naik haji untuk yang kedua kalinya, haji kedua ini  dihukumi sunnah.

Haji dimakruhkan bagi orang yang dikhawatirkan menderita dan sakit dalam proses pelaksanaan haji ataupun setelahnya. Misalnya, orang miskin dan tidak memiliki kecukupan biaya untuk naik haji, tetapi dia tetap bersikeras berangkat naik haji dengan cara meminta-minta.

Terakhir, haji diharamkan bagi perempuan yang tidak mendapatkan izin dari suaminya untuk berangkat haji atau dia tidak memiliki jaminan keamanan serta tidak ada pendamping dalam perjalanan menuju baitullah. Takutnya dia nanti ditimpa marabahaya dan musibah.

 

(Disarikan dari Taqrirat al-Sadidah fi al-Masail al-Mufidah yang disusun oleh Hasan bin Ahmad al-Kaf

Published in BERITA

Attabayyun.com-Jakarta- Persoalan najis termasuk pembahasan penting dalam kitab fikih, khususnya pada saat membahas fikih thaharah (bersuci) dan fikih ibadah. Pembahasan ini penting diketahui agar ibadah yang dilakukan dianggap sah secara lahiriah, meskipun urusan diterima atau tidak diserahkan sepenuhnya pada Allah SWT. Paling tidak, kita sudah berusaha semaksimal mungkin mengerjakan ibadah sesuai dengan aturan dan proseduralnya.

Published in BERITA
Friday, 17 February 2017 00:00

Hukum Mencium Jenazah Orang Saleh

Attabayyun.com-Jakarta- Kehilangan orang saleh dan orang berilmu termasuk musibah besar bagi penduduk dunia. Apalagi yang meninggal itu seorang ulama besar dan kharismatik. Belum tentu pada tahun-tahun berikutnya akan muncul lagi orang seperti itu.

Published in BERITA
Monday, 19 December 2016 00:00

Hukum Mengidolakan Artis Non-Muslim

Keinginan memiliki idola atau orang yang dikagumi dan diteladani sudah menjadi fitrah setiap manusia. Idola bermakna seseorang yang yang menjadi pujaan hati, menjadi panutan dalam keseharian, baik dalam hal kebiasaannya, gaya bicara, model pakaian, hingga model rambutnya.

Saat ini terjadi fenomena yang sangat memprihatinkan. Sebagian umat Islam terjebak pada kekeliruan dalam memilih idola atau panutan hidup. Ukuran untuk menilai pantas atau tidaknya seseorang untuk dijadikan panutan bukan lagi akidah dan moralitas, tetapi keistimewaan lahiriyah dan popularitas yang dimilikinya. Sehingga tak mengherankan bila saat ini banyak orang yang meniru gaya hidup para pemain sepak bola, selebritis, penyanyi dan lainnya.

tapi, pernahkah terlintas dibenak kita apa hukumnya mengidolakan seseorang non-muslim? apakah diperbolehkan? di artikel ini kita akan membahas hukum mengenai mengidolakan artis-artis non-muslim.

sebenarnya, Mengidolakan selebritis non-msulim hukumnya boleh apabila sekedar menyukai secara terbatas tanpa membenarkan agamanya dan mencela (dalam hati) sisi buruknya. Dan haram hukumnya apabila ngefans buta sampai mengagumi sisi baik dan buruknya dan berusaha menirunya.
Tidak ada aturan yang tegas yang membahas secara spesifik dalam Islam tentang boleh atau tidaknya mengagumi atau mengidolakan seorang non-muslim. bahkan, Al-Quran juga memberi pujian pada pendeta yang saleh dan berperilaku terpuji. Dalam QS Al-Maidah 5:82 Allah berfirman:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Ma`idah: 82)

dilain ayat, terdapat beberapa point hukum dalam mengidolakan seorang non-muslim. Ayat-ayat larangan dalam bersekutu dengan orang kafir dapat dilihat juga pada QS Ali Imron 3:118; Al-Mujadalah :22; Al-Mumtahanan :1; At-Taubah :71.

Dalam menjelaskan ayat-ayat larangan bermuamalah dengan orang kafir ini, Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Ar-Razi (Mafatih Al-Ghaib), hlm. 4/168, menyatakan:


واعلم أن كون المؤمن موالياً للكافر يحتمل ثلاثة أوجه أحدها : أن يكون راضياً بكفره ويتولاه لأجله ، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوباً له في ذلك الدين ، وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر ، فيستحيل أن يبقى مؤمناً مع كونه بهذه الصفة . فإن قيل : أليس أنه تعالى قال : { وَمَن يَفْعَلْ ذلك فَلَيْسَ مِنَ الله فِي شَىْء وهذا لا يوجب الكفر فلا يكون داخلاً تحت هذه الآية ، لأنه تعالى قال : { يا أيها الذين آمنوا } فلا بد وأن يكون خطاباً في شيء يبقى المؤمن معه مؤمناً وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر ، وذلك غير ممنوع منه

والقسم الثالث : وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة ، والمظاهرة ، والنصرة إما بسبب القرابة ، أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه ، وذلك يخرجه عن الإسلام فلا جرم هدد الله تعالى فيه فقال : { وَمَن يَفْعَلْ ذلك فَلَيْسَ مِنَ الله فِي شَىْء }


Artinya: Ketahuilah bahwa pertemanan muslim dengan kafir itu ada tiga jenis: pertama, ia rela dengan kekufurannya dan berteman dengannya atas dasar kekufurannya. Ini dilarang karena siapapun yang melakukan hal itu maka dia membenarkan agama itu. Membenarkan kekufuran adalah kufur. Maka mustahil ia akan tetap menjadi muslim dengan perilaku seperti ini.... Kedua, bergaul dengan orang kafir secara baik berdasarkan zhahirnya. Ini tidak dilarang.

Ketiga, ini adalah pertengahan di antara dua poin sebelumnya yakni bahwa berteman dengan orang kafir dalam arti condong, menolong, menampakkan pada mereka adakalanya karena unsur kekerabatan atau karena suka dengan keyakinan bahwa agamanya batil (sesat). Sikap ini tidak mengakibatkan kufur, tapi dilarang. Karena berteman dengan pengertian ini dapat berakibat pada menganggap baik pada jalannya dan rela dengan agamanya. Itu akan mengeluarkan seorang muslim dari Islam. Allah telah mengingatkan akan hal ini dalam QS Ali Imron 3:28 "Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah."

Dari uraian di atas, terutama dari Tafsir Ar-Razi, maka dapat disimpulkan bahwa ngefans dan mengidolakan figur non-muslim itu hukumnya bisa

(a) haram dan berakibat kafir apabila membenarkan agamanya;

(b) haram tapi tidak berakibat kafir apabila suka dengan orangnya tapi menganggap agamanya tidak benar;

(c) boleh secara mutlak apabila pertemanan hanya sebatas lahiriyah saja tanpa melibatkan keyakinan agama.

Dalam konteks yang terakhir inilah, maka Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, hlm. 2/143, membolehkan dengan syarat tidak boleh mencapai tahap membabi buta dalam arti kita harus kritis dengan mengagumi kebaikannya saja dan mengecam keburukannya:


وإن اجتمع في شخص خير وشر وجب أن يحب لأجل ذلك الخير ويبغض لأجل ذلك الشر


Artinya: Apabila berkumpul dalam diri seseorang suatu kebaikan dan keburukan, maka wajib menyukainya karena sisi kebaikan itu, dan mencela (mengecam) sisi buruknya.

Begitu juga, mengidolakan artis muslim pun haram apabila nge-fans-nya mencapai tahap fanatik buta dan tidak kritis dalam menilai. Karena, umumnya para artis adalah orang fasiq yang terus menerus pelaku dosa kecil atau pernah melakukan dosa besar.

 

(http://www.alkhoirot.net)

 

 

Published in BERITA
Thursday, 17 November 2016 00:00

Hukum Makan Sambil Bersandar

Attabayyun.com-Jakarta-Terkadang tanpa kita sadari kita seringkali makan sambil bersandar. Tapi ternyata, cara makan yang tidak disukai adalah makan sambil bersandar, cara makan seperti ini dinilai cara makan orang yang lahap sehingga tidak disukai atau dinilai makruh, jika demikian maka sudah sepantasnya kita menghindarinya.

Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau,

لاَ آكُلُ وَأَنَا مُتَّكِئٌ

“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Bukhari no. 5399)

Makna makan muttaki-an

Ibnul Atsir rahimahullah berkata, “Yang dimaksud muttaki-an adalah condong ketika duduk bersandar pada salah satu sisi.” (Lihat Tawdhihul Ahkam, 5: 439)

Disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (9: 451), “Mengenai makna ittika’ diperselisihkan maknanya oleh para ulama. Ada yang mengatakan, pokoknya bersandar ketika makan dalam bentuk apa pun. Ada yang menjelaskan, yang dimaksud adalah condong pada salah satu sisi. Ada pula yang memaknakan dengan bersandar dengan tangan kiri yang diletakkan di lantai.”

Dari perkataan Imam Malik –yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar- terdapat isyarat bahwa beliau memaksudkan duduk ittika’ untuk segala macam bentuk bersandar, tidak khusus pada cara duduk tertentu.

Makan bersandar pada tangan kiri

Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 451) bahwa ada hadits yang melarang bersandar dengan tangan kiri ketika makan. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dengan lafazh,

زَجَرَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَعْتَمِد الرَّجُل عَلَى يَده الْيُسْرَى عِنْد الْأَكْل

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bersandar pada tangan kiri ketika makan.” Sayangnya, sanad hadits ini dho’if sebagaimana kata Ibnu Hajar. Namun posisi makan seperti ini sebaiknya dihindari karena masih termasuk ittika’ (bersandar) sebagaimana kata Imam Malik.

Apa hukum makan sambil bersandar?

Ibnul Qashsh menyatakan bahwa hal ini hanya dimakruhkan untuk nabi. Namun Al Baihaqi menyatakan, yang lainnya pun dimakruhkan makan sambil bersandar. Karena cara makan seperti ini berasal dari para raja non Arab. Namun jika ada seseorang yang tidak memungkinkan makan selain dengan bersandar, hal itu tidak dikatakan makruh. (Lihat Fathul Bari, 9: 451)

Di antara alasan kenapa makan sambil bersandar terlarang karena dikhawatirkan perut menjadi bertambah buncit. Sebagaimana ada riwayat dari Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ibrahim An Nakho’i. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Fath (9: 452).

Ibnu Hajar mengatakan, “Jika sudah disadari bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.” (Fathul Bari, 9: 452)
Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk beramal dan mengikuti sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.[]

 

Sumber: Islampos

Published in BERITA
Thursday, 17 November 2016 00:00

Hukum Membunuh Semut Dalam Islam

Attabayyun.com-Jakarta- Semut adalah serangga kecil yang sering kita temui dimana saja, tak terkecuali dirumah. tak jarang kita merasa risih atas keberadaan semut yang terkadang membuat rumah tampak kotor.

apalagi semut merah, yang jika menggigit kulit manusia akan mengakibatkan bentol dan gatal. hal inilah yang membuat manusia tak segan-segan membunuh semut dengan berbagai cara. namun, pernahkah anda berpikir apa hukum membunuh semut dalam islam?

dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, Rasulullah SAW memberitahukan bahwa ada 4 macam hewan yang tak boleh dibunuh.

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabdah: dilarang membunuh empat jenis binatang, yaitu: semut, lebah, hudhud, suradi" (HR. Ahmad dan Abu Daud)

namun, hukum itu jelas tidak berlaku jika hewan tersebut membahayakan dan mengganggu manusia. namun disarankan, jika benar hewan itu mengganggu dan membahayakan maka usirlah terlebih dahulu. jika tidak bisa, maka bunuhlah.

namun, adapun cara membunuhnya dilarang menggunakan api. karna dalam hadist nya Rasulullah mengatakan, bahwa hanya Allah SWT yang boleh melakukannya.

dari Ibnu Mas'ud RA, Rasulullah dan para sahabat singgah ketika melakukan safar dan setelah itu beliau melihat ada sarang semut yang dibakar.

"siapakah yang membakar ini?," tanya Rasulullah.

"kami," jawab para sahabat.

Nabi kemudian bersabdah " tidak boleh membunuh dengan api, kecuali Rabb pemilik api (Allah)" (HR. Ahmad)

lantas bagaimana dengan membunuh menggunakan air panas?

menurut para ulama, bahwa membunuh hewan dengan air panas sama saja dengan membunuhnya menggunakan api dan itu dilarang.

menurut fatawa syabaka islamiyah menyatakan, "membunuh dengan air mendidih termasuk membunuh dengan api dan termasuk penyiksaan yang bertentangan dengan prinsip membunuh dengan cara yang terbaik. karena itu, tidak diperbolehkan"

nah, dengan ini diperjelas, bahwa boleh saja membunuh semut asalkan semut itu benar-benar membahayakan dan mengganggu anda. namun ada baiknya, usirlah semut itu dengan cara baik-baik. dan dilarang membunuh menggunakan api dan air mendidih karena itu bukanlah prinsip membunuh hewan dengan cara terbaik.

(kabarmakkah.com)

Published in BERITA
Monday, 29 August 2016 00:00

Ketahuilah, Ini Dia Hukum Haji

Published in BERITA