BREAKING NEWS
Istimewa Istimewa

Perjalanan al-Ghazali Menjadi Sufi

Attabayyun.com-Jakarta- Akhir abad ke-12 M adalah masa kegemilangan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali.Dia dikenal sebagai penasihat Kerajaan Saljuk. Khalifah kerap meminta petuahnya untuk menjadi acuan dalam membuat kebijakan keagamaan.

Sang alim pun kerap mem berikan nasihat. Salah satu nasihat al-Ghazali untuk khalifah tertuang dalam kitab Nasihatul Muluk. Tak hanya itu, al-Ghazali juga memimpin madrasah bergengsi di zamannya, Nizamiyah.

Murid dari berbagai negara berdatangan ke sana untuk menimba ilmu. Sang imam menjelaskan pengetahuannya tentang agama, teologi, falsafah, dan banyak lagi. Mengajar ada lah salah satu kegiatan kesukaannya, tapi entah kenapa, suatu ketika dia merasa tidak nyaman.

Abu Hamid tiba-tiba mempertanyakan mengapa selama ini hanya disibukkan dengan mengajar ilmu yang hanya mengundang kesombongan dan tidak berguna untuk akhirat. Lambat laun dia mengakui, kegiatan itu sangat mungkin disalahartikan.

Orang lain bisa saja menganggap kesibukan sang imam mengajar adalah untuk kemasyhuran dan meningkatkan citra politik, sehingga menarik hati para penguasa. Kondisi ini membuatnya sadar, telah salah dalam berbuat kebaikan. Wa anni qad asyfaytu `alan nar (Sungguh aku hampir saja terjatuh kedalam neraka), tulis al-Ghazali dalam al-Munqidz Minad Dhalal.

Sejak itu, dia berkeinginan untuk meninggalkan Baghdad. Ketika niat itu terbesit di hati, hawa nafsu datang. Keinginan untuk mengasingkan diri (uzlah) tak terlak sana. Dia pun mencoba untuk tenggelam dalam mengingat Allah (dzikrullah), tapi tiba-tiba pasukan hawa nafsu datang dan menghabisi keinginan suci itu, sehingga al-Ghazali kembali hanyut dalam keduniaan.

Iman yang ada di dalam hatinya berusaha mengingatkan, Pergilah, usiamu tak lama lagi. Perjalanan menuju Ilahi masih sangat jauh. Sementara ilmu dan amal yang ada hanya berupa kesombongan dan prasangka. Jika engkau tidak segera fokus ke akhirat maka tak ada waktu lagi.