BREAKING NEWS
Sepuluh Mandi Sunah Bagi Orang Yang Haji

Sepuluh Mandi Sunah Bagi Orang Yang Haji Featured

Attabayyun.com-Jakarta- Tidak seperti shalat yang harus suci mulai awal hingga akhir, ibadah haji boleh dijalankan dalam keadaan tidak suci seperti saat wanita haid, nifas bagi wanita, kentut, bersentuhan lain jenis dan lain sebagainya kecuali saat thawaf. Jika thawaf, orang yang berhaji harus suci dari hadas baik kecil maupun besar serta suci dari najis.

 

Islam, selain fokus pada ibadah vertikal ketuhanan, juga memperhatikan aspek-aspek horisontal. Seperti sunah gosok gigi atau bersiwak saat bau mulut, sunah mandi dan memakai parfum ketika hendak bertemu orang banyak saat Jum’atan dan sebagainya.

Artinya kebersihan, kerapian merupakan bagian dari pada ajaran agama sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul yang selalu wangi, pergi ke mana saja membawa sisir rambut dan sebagainya.

Adapun bagi orang yang menjalankan ibadah haji sunahkan mandi pada sepuluh sesi. Sepuluh sesi tersebut yang pertama adalah saat akan memakai pakaian ihram baik untuk haji maupun umrah.

Kedua, saat memasuki kota Makkah. Bagi siapa  saja yang memasuki kota Makkah baik untuk keperluan haji-umrah maupun tujuan lain, disunahkan untuk mandi terlebih dahulu.

Ketiga, saat wukuf di Arafah. Mandi di Arafah ini yang paling utama dilakukan di Namirah saat matahari berada di posisi barat (ba’da Dzuhur) meskipun apabila dilakukan sejak sehabis shalat shubuh sudah mendapatkan kesunahan sebagaimana sunahnya mandi saat hari Jum’at.

Keempat, saat wukuf di muzdalifah. Mandi di Muzdalifah disunahkan pada tanggal 10 Dzul Hijjah mulai lewat tengah malam. Waktunya sebagaimana mandi sunah untuk shalat Id.

Kelima, saat akan menjalankan thawaf ifadlah. Thawaf ifadlah adalah thawaf yang dilakukan sebagai rukun haji. Keenam, yaitu ketika akan mencukur atau memotong rambut. Ketujuh, kedelapan dan kesembilan adalah mandi di setiap akan melempar jumrah selama tiga hari tasyriq atau tanggal 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah.

Sedangkan yang terakhir adalah mandi sunah dalam rangka akan melaksanakan thawaf wada’, yaitu thawaf dalam rangka berpamitan ingin pulang ke tempat atau negara masing-masing. Dan barangsiapa yang tidak menemukan air untuk mandi sunah, boleh menggantinya dengan tayammum.

 

(Disarikan dari Imam Nawawi dalam kitab Al Idlah fi Manasik al Hajj wa al Umrah, Al Maktabah Al Imdadiyah :  hlm. 125-126)

About Author

Related items

  • Sembilan Orang Muslim Inggris Pergi Haji dengan Naik Sepeda

    Attabayyun.com-Jakarta- Setelah beberapa waktu lalu 2 anggota tim sepeda muslim Inggris berhasil mencapai Kairo, kini delapan orang dari tim tersebut sudah berhasil mencapai Madinah untuk melaksanakan haji.

    Mereka menjadi orang Inggris pertama yang melakukan perjalanan haji dengan sepeda dari Inggris. Tim yang dikenal sebagai “Hajj Riders” – mencapai kota suci Madinah dalam waktu kurang dari enam minggu sebagai bagian dari tantangan amal untuk mengumpulkan uang untuk bantuan medis di Suriah serta anak-anak yang tidak mampu di Bangladesh dan Pakistan.

    Sesampainya di masjid Nabawi, mereka begitu emosional dan dikerumuni banyak orang untuk menyambut mereka. Mereka di Arab Saudi dibantu oleh kelompok bersepeda lokal Saudi Cyclists dan Taibah Cyclists, yang membantu mereka mengatasi hambatan yang mereka hadapi.

    Mohammed Ehsaan, salah satu dari delapan pengendara sepeda, mengatakan “kata-kata tidak bisa menggambarkan perasaan saya,” Ilmfeed melaporkan pada hari Ahad 20 Agustus.

     

    Karena masalah visa, tim tersebut juga harus meninggalkan rencana awal mereka untuk naik feri dari Hurghada di Mesir dan bersepeda di sepanjang pantai Saudi ke Madinah. Sebagai gantinya, kelompok tersebut terpaksa terbang dari Mesir ke Jeddah, selanjutnya dari Jeddah mereka melanjutkan perjalanan dengan bersepeda lagi ke Madinah.

     

    Setelah sampai di Madinah, tim sepeda muslim ini akan beristirahat sebentar sebelum bersiap untuk ibadah haji yang akan dimulai pada akhir Agustus.

  • Menteri Haji Saudi Rilis Waktu Larangan Lontar Jumrah

    Attabayyun.com-Jakarta- Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi melalui Muassasah Asia Tenggara telah merilis surat edaran tentang waktu yang dilarang bagi jmaah haji Indonesia untuk melontar jumrah.

  • Asal Usul Istilah Haji Mabrur

    Attabayyun.com-Jakarta- “Semoga memeroleh haji mabrur”, begitulah salah satu contoh ungkapan yang kerap kali terdengar saat hendak pemberangkatan, sedang menjalani atau selesai melaksanakan haji. Terma “haji mabrur” menjadi semacam doa harapan bagi para jama’ah haji agar memperoleh haji yang diterima oleh Allah. Tapi adakah yang tahu asal muasal “haji mabrur”? Apakah istilah itu sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad? Atau seperti gelar haji di depan nama seseorang yang hanya didapati di sebagian negara saja, tidak termasuk negara Arab yang menjadi tempat berhaji?

    “Haji mabrur” terdiri dari dua kata dimana terdiri dari kata sifat serta perilaku yang disifati. Untuk kata “haji”, mungkin bisa dianggap cukup dipahami sebagai tindakan menyengaja menuju ka’bah di Makkah dengan beberapa syarat serta kewajiban tertentu. Sedang “mabrur”, dalam kamus Lisanul Arab karya Ibn Mandur, berasal dari kata بَرَّ  يَبَرُّ yang berarti bersikap tunduk dengan bentuk masdar بِرٌّ. Tunduk kepada Allah berarti berbaik-baik atau bersikap baik kepada Allah. Sedang mabrur adalah bentuk isim maf’ul yang berarti sesuatu yang disikapi baik atau diterima. Sampai disini haji mabrur dapat diartikan secara bahasa sebagai haji yang diterima.

    Istilah “haji mabrur” sudah dikenal semenjak Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dilihat salah satu dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab sahihnya:

    Diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah salallahualaihi wasallam pernah ditanya mengenai amal apa yang paling utama? Beliau lalu menjawab “beriman kepada Allah”. Lalu beliau ditanya lagi: “lalu apa lagi?”. “Jihad di jalan Allah” jawab Nabi. “Lalu apa lagi?” beliau ditanya. “Haji Mabrur”.

    Hadis-hadis yang menyebutkan “Haji Mabrur” amatlah banyak. Di dalam Sahih Bukhari sendiri setidaknya ada empat hadis yang mencantumkan istilah tersebut. Belum lagi dalam Sahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain.

    Mengenai makna dari “Haji Mabrur”, Ibn Hajar al-Asqalani yang merupakan salah satu ahli hadis yang memiliki karya khusus dalam mengupas hadis-hadis dalam Sahih Bukhari, mengungkapkan ada tiga pendapat mengenai makna “haji mabrur”. Pertama, haji yang diterima; kedua, tindakan haji yang tidak dimasuki perilaku dosa; ketiga, haji yang tidak dimasuki sifat riya’.

    Makna yang pertama lebih melihat hubungan antara Allah serta pelaksana haji. Istilah haji mabrur dengan makna ini merupakan ungkapan tentang suatu ibadah yang dapat diterima Allah ta’ala. Dapat diterima entah dengan bagaimana pun bentuk dan rupanya. Atau mungkin melihat dari sudut pandang ibadah haji yang dilakukan dapat diterima Allah dalam artian menggugurkan kewajiban si pelaku.

    Makna yang kedua lebih melihat pada kesempurnaan ibadah haji tersebut. Ungkapan tidak dimasuki dosa mengindikasikan adanya harapan bahwa ibadah hajinya tidak sekedar diterima dengan apa adanya, tapi juga dapat sempurna dengan tidak dimasuki dengan hal-hal yang menciderai kesempurnaan haji.

    Makna yang ketiga barangkali lebih melihat salah satu unsur kesempurnaan haji, yaitu terhindar dari sifat riya’. Riya adalah ungkapan lain dari pamer, yang merupakan sikap ingin agar orang lain tahu tentang hal yang dicapai si pelaku. Bagaimana pun juga, haji adalah capaian yang tak mudah didapat oleh banyak orang. Dalam melaksanakan haji perlu siapan secara fisik dan materi yang tidak sedikit. Maka dapat melaksanakan haji adalah kebanggaan tersendiri oleh sebagian orang. Dari sini sifat riya’ muncul. Entah saat hendak berangkat haji, tatkala haji maupun sesudah melaksanakan haji.

    Berbagai uraian tadi memberi kesimpulan bahwa istilah “haji mabrur” sudah ada di zaman Nabi Muhammad dan dimuat dalam beberapa hadis. Oleh karena itu memakai istilah “haji mabrur” sama dengan bertabarruk atau mengharap kebaikan dari kata-kata yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad. Sedang dalam memaknai “haji mabrur” ulama’ berbeda-beda. Namun pada intinya “Haji mabrur” dimaksudkan harapan bahwa haji yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik dan diterima oleh Allah.