BREAKING NEWS
Rukun Haji

Rukun Haji Featured

Attabayyun.com-Jakarta- Sebagaimana diketahui, rukun ialah sesuatu yang berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya sebuah ibadah. Kalau rukun tidak dikerjakan, ibadah yang dilakukan tidak sah. Dengan demikian, setiap aktifitas yang berkaitan dengan rukun haji harus dilakukan seutuhnya. Kalau tidak dilakukan, haji yang dikerjakan tidak sah dan harus diqadha.

 

Rukun haji ada enam: ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sa’i, tahallul, dan tertib. Berikut uraian singkatnya:

Pertama, ihram, sebagaimana ibadah pada umumnya, niat termasuk bagian penting dalam ibadah. Posisi niat pada saat haji dimulai saat melakukan ihram.

Kedua, wukuf di Arafah, dalam hadis disebutkan bahwa haji itu adalah arafah. Artinya, wukuf di Arafah menjadi ritual penting dalam haji. Wukuf biasanya dimulai pada tanggal 9 dzulhijah setelah tergelincir matahari sampai waktu subuh tanggal 10 dzulhijah. Orang yang diwajibkan melakukan wukuf ialah orang yang memenuhi persyaratan sah ibadah, seperti tidak gila, sadar, dan lain-lain.

Ketiga, tawaf, dilakukan setelah wukuf di Arafah, dengan cara mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Tawaf dimulai dari hajar aswad dan posisi ka’bah berada di sebelah kiri jemaah haji. Pada saat memulai tawaf, badan harus menghadap seutuhnya ke arah hajar aswad.

Keempat, sa’i dari Shafa ke Marwah sebanyak tujuh kali. Sa’i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.  Kelima, tahallul, yaitu mencukur rambut setelah menyelesaikan rukun haji. Dianjurkan bagi laki-laki untuk mencukur seluruh rambut dan bagi perempuan dianjurkan memendekan rambut. Batas minimal tahallul menurut sebagian ulama ialah tiga helai rambut.

Keenam, tertib, rukun haji mesti dilakukan secara berurutan, dimulai dari ihram, wukuf, tawaf, sa’i, dan tahallul. Tidak boleh rukun yang kedua atau ketiga dilakukan di awal. Kalau tidak berurutan, hajinya tidak sah.

 

(Disarikan dari Fathul Qarib karya Ibnu Qasim)

About Author

Related items

  • Menteri Haji Saudi Rilis Waktu Larangan Lontar Jumrah

    Attabayyun.com-Jakarta- Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi melalui Muassasah Asia Tenggara telah merilis surat edaran tentang waktu yang dilarang bagi jmaah haji Indonesia untuk melontar jumrah.

  • Asal Usul Istilah Haji Mabrur

    Attabayyun.com-Jakarta- “Semoga memeroleh haji mabrur”, begitulah salah satu contoh ungkapan yang kerap kali terdengar saat hendak pemberangkatan, sedang menjalani atau selesai melaksanakan haji. Terma “haji mabrur” menjadi semacam doa harapan bagi para jama’ah haji agar memperoleh haji yang diterima oleh Allah. Tapi adakah yang tahu asal muasal “haji mabrur”? Apakah istilah itu sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad? Atau seperti gelar haji di depan nama seseorang yang hanya didapati di sebagian negara saja, tidak termasuk negara Arab yang menjadi tempat berhaji?

    “Haji mabrur” terdiri dari dua kata dimana terdiri dari kata sifat serta perilaku yang disifati. Untuk kata “haji”, mungkin bisa dianggap cukup dipahami sebagai tindakan menyengaja menuju ka’bah di Makkah dengan beberapa syarat serta kewajiban tertentu. Sedang “mabrur”, dalam kamus Lisanul Arab karya Ibn Mandur, berasal dari kata بَرَّ  يَبَرُّ yang berarti bersikap tunduk dengan bentuk masdar بِرٌّ. Tunduk kepada Allah berarti berbaik-baik atau bersikap baik kepada Allah. Sedang mabrur adalah bentuk isim maf’ul yang berarti sesuatu yang disikapi baik atau diterima. Sampai disini haji mabrur dapat diartikan secara bahasa sebagai haji yang diterima.

    Istilah “haji mabrur” sudah dikenal semenjak Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dilihat salah satu dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab sahihnya:

    Diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah salallahualaihi wasallam pernah ditanya mengenai amal apa yang paling utama? Beliau lalu menjawab “beriman kepada Allah”. Lalu beliau ditanya lagi: “lalu apa lagi?”. “Jihad di jalan Allah” jawab Nabi. “Lalu apa lagi?” beliau ditanya. “Haji Mabrur”.

    Hadis-hadis yang menyebutkan “Haji Mabrur” amatlah banyak. Di dalam Sahih Bukhari sendiri setidaknya ada empat hadis yang mencantumkan istilah tersebut. Belum lagi dalam Sahih Muslim serta kitab-kitab hadis yang lain.

    Mengenai makna dari “Haji Mabrur”, Ibn Hajar al-Asqalani yang merupakan salah satu ahli hadis yang memiliki karya khusus dalam mengupas hadis-hadis dalam Sahih Bukhari, mengungkapkan ada tiga pendapat mengenai makna “haji mabrur”. Pertama, haji yang diterima; kedua, tindakan haji yang tidak dimasuki perilaku dosa; ketiga, haji yang tidak dimasuki sifat riya’.

    Makna yang pertama lebih melihat hubungan antara Allah serta pelaksana haji. Istilah haji mabrur dengan makna ini merupakan ungkapan tentang suatu ibadah yang dapat diterima Allah ta’ala. Dapat diterima entah dengan bagaimana pun bentuk dan rupanya. Atau mungkin melihat dari sudut pandang ibadah haji yang dilakukan dapat diterima Allah dalam artian menggugurkan kewajiban si pelaku.

    Makna yang kedua lebih melihat pada kesempurnaan ibadah haji tersebut. Ungkapan tidak dimasuki dosa mengindikasikan adanya harapan bahwa ibadah hajinya tidak sekedar diterima dengan apa adanya, tapi juga dapat sempurna dengan tidak dimasuki dengan hal-hal yang menciderai kesempurnaan haji.

    Makna yang ketiga barangkali lebih melihat salah satu unsur kesempurnaan haji, yaitu terhindar dari sifat riya’. Riya adalah ungkapan lain dari pamer, yang merupakan sikap ingin agar orang lain tahu tentang hal yang dicapai si pelaku. Bagaimana pun juga, haji adalah capaian yang tak mudah didapat oleh banyak orang. Dalam melaksanakan haji perlu siapan secara fisik dan materi yang tidak sedikit. Maka dapat melaksanakan haji adalah kebanggaan tersendiri oleh sebagian orang. Dari sini sifat riya’ muncul. Entah saat hendak berangkat haji, tatkala haji maupun sesudah melaksanakan haji.

    Berbagai uraian tadi memberi kesimpulan bahwa istilah “haji mabrur” sudah ada di zaman Nabi Muhammad dan dimuat dalam beberapa hadis. Oleh karena itu memakai istilah “haji mabrur” sama dengan bertabarruk atau mengharap kebaikan dari kata-kata yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad. Sedang dalam memaknai “haji mabrur” ulama’ berbeda-beda. Namun pada intinya “Haji mabrur” dimaksudkan harapan bahwa haji yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik dan diterima oleh Allah.

  • Sepuluh Mandi Sunah Bagi Orang Yang Haji

    Attabayyun.com-Jakarta- Tidak seperti shalat yang harus suci mulai awal hingga akhir, ibadah haji boleh dijalankan dalam keadaan tidak suci seperti saat wanita haid, nifas bagi wanita, kentut, bersentuhan lain jenis dan lain sebagainya kecuali saat thawaf. Jika thawaf, orang yang berhaji harus suci dari hadas baik kecil maupun besar serta suci dari najis.