Islam Haramkan Sihir

Islam Haramkan Sihir Featured

Attabayyun.com-Jakarta- Islam jelas mengharamkan praktik-praktik sihir. Dalam sebuah hadits riwayat Na sa'i dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyejajarkan sihir dengan dosa paling besar yakni syirik.

Barang siapa membuhul tali dan meniupnya berarti ia telah melakukan sihir. Barang siapa yang melakukan sihir berarti ia telah syirik, demikian sabda Nabi Muhammad.

Adanya keterlibatan setan merupakan keburukan yang besar. Ulama-ulama kebanyakan menyertakan ihwal pertolongan setan dalam definisi tentang sihir. Ibnu al-Qayyim misalnya, sebagaimana dikutip Wahid bin Abdussalam Bali (1995) menegaskan, sihir adalah perpaduan antara pengaruh roh-roh jahat dengan kekuatan-kekuatan alamiah.

Al-Azhari mengatakan, sihir adalah perbuatan yang mendekatkan diri kepada setan dengan pertolongan setan. Adapun Wahid menyimpulkan sihir sebagai kesepakatan antara tukang sihir dan setan, yakni ketika penyihir itu melakukan syirik dan sebaliknya, setan menolongnya mewujudkan permintaan-permintaan si penyihir.

Wahid menguraikan beberapa cara yang biasanya digunakan penyihir untuk memanggil setan. Pertama, dengan ritual persembahan atau memasukkan dupa dan sejenisnya ke dalam api. Kedua, menyembelih hewan-hewan tertentu dengan tidak menyebut nama Allah.

Ketiga, cara kenajisan, yakni penyihir menuliskan surah-surah Alquran dengan cairan darah haid atau najis-najis lain. Di saat yang sama, penyihir merapalkan mantera-mantera syirik. Semua cara itu penyihir lakukan dalam kondisi tidak suci atau di tempat-tempat yang hina, seperti toilet. Proses kerja sama atau pertolongan setan pula yang membedakan sihir dari, misalnya, karamah atau mukjizat.

Sihir dan Abad Pertengahan

Dalam rentang abad ke-14 sampai 16, sebanyak 200 ribu hingga 500 ribu penyihir mati akibat aksi massa di Eropa Dataran. Kecenderungan jahat dalam dunia sihir terus berlanjut memasuki kurun Masehi.

Pada Abad Pertengahan, kata Michael D Bailey dalam bukunya, Magic and Superstition in Europe, masyarakat Eropa pada umumnya menghakimi sihir sebagai lawan daripada agama. Teologi Kristen memisahkan dengan tegas kekuatan yang berasal dari iblis dengan yang berasal dari kuasa trinitas.

Salah satu praktik perburuan penyihir (witch hunt) terbesar dalam sejarah, terjadi di Skotlandia dalam kurun 1661-1662. Brian P Levack (2014) memaparkan, tidak kurang dari 660 orang tewas akibat aksi amuk tersebut. Sebelum dihabisi, mereka digiring ke lapangan dengan tuduhan telah melakukan pelbagai ritual sihir.

Perburuan itu bermula di wilayah perdesaan timur Edinburgh, Midlothian, dan Lothian Timur. Awalnya, ada 206 orang yang dituding sebagai penyihir. Namun, amuk massa meluas tidak hanya di ketiga daerah tersebut. Dari sekitar 600 korban jiwa, sejarah mencatat sebanyak 206 di antaranya tewas akibat dibakar hidup-hidup.

Begitulah cara orang-orang Abad Pertengahan 'membersihkan' masyarakat dari pengaruh sihir.

Lebih lanjut, Nachman Ben Yehuda melalui artikelnya, The European Witch Craze of the 14th to 17th Centuries: A Sociologist's Perspective mendapatkan angka yang mencengangkan. Dalam rentang abad ke-14 sampai 16, sebanyak 200 ribu hingga 500 ribu penyihir mati akibat aksi massa di Eropa Dataran. Mayoritas atau sebesar 85 persen diantaranya merupakan perempuan.

Namun, seiring dengan mencuatnya teknologi penyiaran, sihir kembali mengalami pergeseran makna. Memasuki awal abad industri, praktik-praktik sihir (magic) menjadi bagian dari bisnis pertunjukan hiburan.