Umroh Backpacker April 2017 Tantangan Menuju Gua Hira

Umroh Backpacker April 2017 Tantangan Menuju Gua Hira

 

berada.Pekatnya malam bukan halangan berarti bagi mereka yang sudah bertekad melakukan napak tilas perjalanan Nabi Muhammad SAW ber-uzlah di sana serta mendapatkan wahyu kenabian dari Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril. Justru waktu-waktu seperempat malam terakhir menjadi favorit lantaran cuaca masih bersahabat, tidak panas menyengat.

Dengan penerangan seadanya dari pendaran lampu toko-toko di kanan kiri jalan serta cahaya senter, mereka berjalan mantap menapaki kaki Jabal Nur. Teriakan dari pada pedagang sesekali memecah keheningan. “Tongkat lima riyal, tongkat lima riyal.” Menawarkan barang dagangan yang cukup bermanfaat membantu pendakian.Suara klakson mobil pun bersahut-sahutan, terkadang ikut memecah konsentrasi menapaki aspal yang mulai menanjak. Yah, jalanan sempit dan terjal itu masih saja dilalui taksi dan kendaraan umum lainnya. Mau tak mau, sesekali barisan manusia harus menepi, mengalah ketimbang diterjang mobil-mobil yang tampak melaju terburu-buru.Sungguh, adab mengemudi di Kota Suci perlu dibenahi. Tapi itu bukan masalah, lagi-lagi karena tekad sudah bulat untuk mendaki, menapaktilasi perjalanan Rasulullah.Pun papan berwarna hijau berukuran besar dengan tulisan berbagai bahasa yang dibuat Pemerintah Arab Saudi di pertigaan jalan sebelum tanjakan yang isinya mem-bid’ahkan napak tilas ke Gua Hira, tak bakal mempan menghadang para peziarah naik ke Jabal Nur.

Tiba di anak tangga pertama Jabal Nur, napas sudah mulai ngos-ngosan lantaran jalanan aspal sempit sebelumnya dari pertigaan jalan raya cukup terjal. Dari tanjakan pertama sejauh 200-an meter masih manusiawi, namun setelah tikungan belok ke arah kanan, tanjakan mulai tidak bersahabat, nyaris 40 derajat dengan panjang jalan sekira 300-an meter. Mulai dari titik ini usia dan kebugaran tak bisa lagi dibohongi.Banyak para peziarah yang memutuskan rehat sejenak sebelum menyentuh anak tangga pertama Jabal Nur. Bahkan, bagi mereka yang memutuskan naik taksi atau kendaraan pribadi dan turun di titik pemberhentian terakhir. Padahal perjalanan menuju puncak dari anak tangga pertama, belum ada seperempatnya. Deretan anak tangga meliuk-liuk dengan sudut kemiringan 40 derajat di atas sudah menanti.Tangga semen bercampur batu itu tampak dibangun ala kadarnya dan hanya beberapa meter saja dari ratusan meter yang terhampar yang dilengkapi pagar pengaman dari besi. Tak terbayang lebih dari 14 abad lalu Rasulullah naik ke gunung ini atau turun sendirian pada malam hari, tentunya belum ada anak tangga dan fasilitas pendukung lainnya.

Banyaknya jumlah peziarah yang naik maupun turun jalur pendakian menjadi tantangan lain menuju puncak Jabal Nur. Banyak yang berhenti seenaknya dan duduk-duduk di anak tangga. Ada pula yang lamban jalannya seperti nenek-nenek. Mayoritas dari Turki, India dan Indonesia. Suara napas yang berat, batuk dan tarikan dahak begitu dominan memecah kesunyian, karena para pendaki lebih memilih diam menyimpan tenaga.Tiba di pos pemberhentian pertama yang dilengkapi cungkup lengkap dengan bangku sederhana pemandangan indah sudah mulai menyapa. Lampu-lampu dari rumah-rumah dan kendaraan yang lalu lalang di Makkah terlihat memesona, begitu pula dengan sepoi angin yang menerpa. Perjalanan masih panjang untuk mencapai puncak Jabal Nur di ketinggian 2.500 kaki.

Kaki harus kembali melangkah meski pelan tapi pasti menapaki setiap anak tangga dengan kontur berkelok-kelok yang seolah tak berujung. Saat kepala mendongak ke atas masih ada enam kelokan lagi untuk sampai di puncak. Meski malam semakin kaki melangkah ke atas gunung, cahaya rembulan semakin menyinari sekitar.Mulai pertengahan jalan mulai muncul suara-suara dari orang-orang Pakistan yang meminta sedekah. “Ya Allah, Ya Rasulullah, shodaqoh haj.”Jangan heran meski beberapa di antara mereka panca inderanya tidak lengkap, namun bisa mencapai ketinggian lumayan. Entah mereka tinggal di sana sepanjang waktu atau naik dari bawah. Yang jelas di sepanjang tanjakan anak tangga terdapat beberapa gubuk tempat orang-orang Pakistan berjualan air minum, mi instan, kopi, serta pernak-pernik untuk oleh-oleh jamaah haji seperti tasbih dan gantungan kunci bergambar Masjidil Haram.Tepat saat adzan shubuh berkumandang langkah kaki berhasil menapak puncak Jabal Nur. Butuh waktu sekira satu jam untuk mencapai titik ini. Tak ada kawah atau aktvitas vulkanik lain lantaran gunung ini hanya bebatuan saja, nyaris tanpa tumbuhan apapun.

Di puncak gunung hanya ada hamparan batu datar bercampur pasir. Di beberapa tempat lapang tampak sudah diisi oleh peziarah dari Turki yang menjalankan salat Subuh berjamaah. Mereka sudah mengambil wudlu sejak di kaki gunung atau berwudlu menggunakan air mineral.