Hukum Mengidolakan Artis Non-Muslim

Hukum Mengidolakan Artis Non-Muslim Featured

Keinginan memiliki idola atau orang yang dikagumi dan diteladani sudah menjadi fitrah setiap manusia. Idola bermakna seseorang yang yang menjadi pujaan hati, menjadi panutan dalam keseharian, baik dalam hal kebiasaannya, gaya bicara, model pakaian, hingga model rambutnya.

Saat ini terjadi fenomena yang sangat memprihatinkan. Sebagian umat Islam terjebak pada kekeliruan dalam memilih idola atau panutan hidup. Ukuran untuk menilai pantas atau tidaknya seseorang untuk dijadikan panutan bukan lagi akidah dan moralitas, tetapi keistimewaan lahiriyah dan popularitas yang dimilikinya. Sehingga tak mengherankan bila saat ini banyak orang yang meniru gaya hidup para pemain sepak bola, selebritis, penyanyi dan lainnya.

tapi, pernahkah terlintas dibenak kita apa hukumnya mengidolakan seseorang non-muslim? apakah diperbolehkan? di artikel ini kita akan membahas hukum mengenai mengidolakan artis-artis non-muslim.

sebenarnya, Mengidolakan selebritis non-msulim hukumnya boleh apabila sekedar menyukai secara terbatas tanpa membenarkan agamanya dan mencela (dalam hati) sisi buruknya. Dan haram hukumnya apabila ngefans buta sampai mengagumi sisi baik dan buruknya dan berusaha menirunya.
Tidak ada aturan yang tegas yang membahas secara spesifik dalam Islam tentang boleh atau tidaknya mengagumi atau mengidolakan seorang non-muslim. bahkan, Al-Quran juga memberi pujian pada pendeta yang saleh dan berperilaku terpuji. Dalam QS Al-Maidah 5:82 Allah berfirman:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوَاْ إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Ma`idah: 82)

dilain ayat, terdapat beberapa point hukum dalam mengidolakan seorang non-muslim. Ayat-ayat larangan dalam bersekutu dengan orang kafir dapat dilihat juga pada QS Ali Imron 3:118; Al-Mujadalah :22; Al-Mumtahanan :1; At-Taubah :71.

Dalam menjelaskan ayat-ayat larangan bermuamalah dengan orang kafir ini, Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Ar-Razi (Mafatih Al-Ghaib), hlm. 4/168, menyatakan:


واعلم أن كون المؤمن موالياً للكافر يحتمل ثلاثة أوجه أحدها : أن يكون راضياً بكفره ويتولاه لأجله ، وهذا ممنوع منه لأن كل من فعل ذلك كان مصوباً له في ذلك الدين ، وتصويب الكفر كفر والرضا بالكفر كفر ، فيستحيل أن يبقى مؤمناً مع كونه بهذه الصفة . فإن قيل : أليس أنه تعالى قال : { وَمَن يَفْعَلْ ذلك فَلَيْسَ مِنَ الله فِي شَىْء وهذا لا يوجب الكفر فلا يكون داخلاً تحت هذه الآية ، لأنه تعالى قال : { يا أيها الذين آمنوا } فلا بد وأن يكون خطاباً في شيء يبقى المؤمن معه مؤمناً وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر ، وذلك غير ممنوع منه

والقسم الثالث : وهو كالمتوسط بين القسمين الأولين هو أن موالاة الكفار بمعنى الركون إليهم والمعونة ، والمظاهرة ، والنصرة إما بسبب القرابة ، أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه ، وذلك يخرجه عن الإسلام فلا جرم هدد الله تعالى فيه فقال : { وَمَن يَفْعَلْ ذلك فَلَيْسَ مِنَ الله فِي شَىْء }


Artinya: Ketahuilah bahwa pertemanan muslim dengan kafir itu ada tiga jenis: pertama, ia rela dengan kekufurannya dan berteman dengannya atas dasar kekufurannya. Ini dilarang karena siapapun yang melakukan hal itu maka dia membenarkan agama itu. Membenarkan kekufuran adalah kufur. Maka mustahil ia akan tetap menjadi muslim dengan perilaku seperti ini.... Kedua, bergaul dengan orang kafir secara baik berdasarkan zhahirnya. Ini tidak dilarang.

Ketiga, ini adalah pertengahan di antara dua poin sebelumnya yakni bahwa berteman dengan orang kafir dalam arti condong, menolong, menampakkan pada mereka adakalanya karena unsur kekerabatan atau karena suka dengan keyakinan bahwa agamanya batil (sesat). Sikap ini tidak mengakibatkan kufur, tapi dilarang. Karena berteman dengan pengertian ini dapat berakibat pada menganggap baik pada jalannya dan rela dengan agamanya. Itu akan mengeluarkan seorang muslim dari Islam. Allah telah mengingatkan akan hal ini dalam QS Ali Imron 3:28 "Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah."

Dari uraian di atas, terutama dari Tafsir Ar-Razi, maka dapat disimpulkan bahwa ngefans dan mengidolakan figur non-muslim itu hukumnya bisa

(a) haram dan berakibat kafir apabila membenarkan agamanya;

(b) haram tapi tidak berakibat kafir apabila suka dengan orangnya tapi menganggap agamanya tidak benar;

(c) boleh secara mutlak apabila pertemanan hanya sebatas lahiriyah saja tanpa melibatkan keyakinan agama.

Dalam konteks yang terakhir inilah, maka Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, hlm. 2/143, membolehkan dengan syarat tidak boleh mencapai tahap membabi buta dalam arti kita harus kritis dengan mengagumi kebaikannya saja dan mengecam keburukannya:


وإن اجتمع في شخص خير وشر وجب أن يحب لأجل ذلك الخير ويبغض لأجل ذلك الشر


Artinya: Apabila berkumpul dalam diri seseorang suatu kebaikan dan keburukan, maka wajib menyukainya karena sisi kebaikan itu, dan mencela (mengecam) sisi buruknya.

Begitu juga, mengidolakan artis muslim pun haram apabila nge-fans-nya mencapai tahap fanatik buta dan tidak kritis dalam menilai. Karena, umumnya para artis adalah orang fasiq yang terus menerus pelaku dosa kecil atau pernah melakukan dosa besar.

 

(http://www.alkhoirot.net)

 

 

000